Rumah Kita (2)

“The ache for home lives in all of us. The safe place where we can go as we are and not be questioned.” 
― Maya Angelou

LOKASI – PANDANGAN UMUM

Karena budget saya hanya memungkinkan untuk memulai pencarian rumah di wilayah-wilayah di luar perkotaan, maka saya harus memastikan hal-hal berikut ini terpenuhi:

  • Efisiensi akses ke perkotaan dan tempat-tempat strategis lainnya. Untungnya, saat ini kehidupan kita di tahun 2017 sangat dimudahkan dengan kehadiran ojek-ojek maupun taksi-taksi online yang sudah mulai merambah pinggiran kota, walaupun belum semuanya. Setidaknya, mobilitas jadi lebih mudah terutama buat kita-kita yang belum mempunyai kendaraan pribadi. Dalam aspek ini, saya memilih lokasi yang sudah terjangkau fasilitas kemudahan sebagaimana taksi online, biar gampang kemana-mana.
  • Jarak ke perkotaan dan tempat-tempat strategis. Buat saya 60 menit adalah jarak maksimal yang masih masuk akal untuk menuju lokasi-lokasi strategis seperti bandara, pusat perbelanjaan, rumah saudara, tempat ibadah, dan rumah sakit. Syukur-syukur ada nilai tambah, misalnya dekat dengan kampus-kampus besar, terutama jika ada kemungkinan untuk menyewakan rumah tersebut saat belum akan ditempati.
  • Sumber air, bukan saja karena feng shui mengatakan air merupakan penanda sumber rejeki seseorang, tapi juga semua rumahtangga sangat bergantung pada air. Pastikan persoalan sumber air ini ke developer sebelum memutuskan membeli rumah, biar tidak dirundung kerepotan di kemudian hari.
  • Sisa tanah di luar bangunan, karena ini memungkinkan kita untuk mengembangkan rumah kita di masa mendatang. Saya pribadi lebih suka rumah yang masih menyisakan halaman depan yang cukup luas untuk ditanami tumbuh-tumbuhan. Idealnya juga ada pekarangan belakang sebagai ruang terbuka. Tidak mau menghabiskan lahan untuk bangunan, karena kaki saya terkadang rindu bersentuhan dengan tanah atau rerumputan.
  • Akses jalan perumahan. Jangan memilih perumahan yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Idealnya, jalan perumahan bisa dilalui 2 mobil yang berpapasan. Di feng shui juga disebutkan bahwa jalan di depan rumah itu seumpama sungai di mana aliran rejeki mengalir. Kalau jalannya sempit, katanya rejeki juga sedikit. Katanyaaaa… Tapi masuk akal juga sebenarnya. Bayangkan, kita mengadakan acara di rumah dan mengundang rekan-rekan kerja, dan ternyata hanya sebagian kecil yang datang setelah mengetahui akses menuju rumah kita merepotkan? Sayang kan?
  • Sebisa mungkin hindari lokasi banjir, bangunan penjara, terlalu dekat dengan sungai, pemakaman, maupun rumah ibadah.

LINGKUNGAN NASIONALIS? WHY NOT.

Pencarian rumah saya di wilayah Yogyakarta berbarengan dengan situasi politik di Indonesia yang memanas, terlebih terkait isu agama. Hal yang akan saya kemukakan ini kemungkinan besar tidak akan terjadi seandainya saya memilih lokasi rumah di Bali. Tapi saya sadar, Yogyakarta jauh lebih kompleks dalam hal perbedaan agama. Sebagai penganut agama yang tergolong minoritas di negeri ini, saya merasa harus menambahkan satu kriteria lagi ke dalam daftar persyaratan lokasi: lingkungan yang ‘nasionalis’, dalam artian, saya dan keluarga harus merasa nyaman dan aman, bebas dari intimidasi oknum-oknum intoleran.

Bukan tanpa latar belakang mengapa saya mengambil sikap ini. Sekitar 18 tahun yang lalu, saya pernah berburu rumah kontrakan di suatu wilayah di salah satu kabupaten di Yogyakarta. Pencarian saya ternyata menjadi sebuah pengalaman yang menyedihkan dan cukup traumatis. Salah satu RT tidak sungkan mengatakan bahwa lingkungannya tidak diperuntukkan penduduk minoritas. RT yang lain lagi lumayan ‘welcome’, tapi dengan satu syarat: saya tidak boleh mengadakan kegiatan keagamaan di rumah. Saya sampai menangis waktu itu, sulit percaya hal-hal seperti itu nyata terjadi di kota pelajar ini. Untungnya, masih banyak lingkungan yang terbuka di Yogyakarta, walaupun masih saja saya dengar beberapa teman membagikan pengalaman kurang menyenangkan yang mereka terima karena alasan agama.

Dari situ, begini kira-kira panduan yang saya lakukan saat memilih lokasi rumah yang akan dibeli:

  • Tinjau lokasi langsung dan cermati lingkungan sebaik-baiknya. Ada kantong-kantong lingkungan tertentu yang menunjukkan penanda-penanda fanatisme. Keep an open mind dan jangan terlalu curigaan, tapi kadang insting kita berbicara, dan bagi saya, first impression sangat penting. Seorang saudara bahkan punya tips praktis begini: ada tidak tetangga yang memelihara anjing? Kalau ada, syukur… karena bisa berarti lingkungan tersebut cukup terbuka. Ya kecuali buat yang memang takut sama anjing, ya! 😁😁
  • Tanyakan secara terbuka pada pihak marketing developer mengenai concern Anda, dan lihat reaksi mereka. Saya percaya, developer yang memang ingin membantu Anda dan bukan sekedar mengejar komisi akan sejujur-jujurnya memberikan masukannya, bisa dengan menginformasikan demografi sederhana mengenai calon-calon tetangga perumahan, maupun lingkungan yang Anda target.
  • Kadang-kadang Google Map bisa membantu memberi petunjuk apakah letak rumah berada di area yang kental keagamaannya, tapi jangan dijadikan patokan bahwa orang-orangnya pasti fanatik dan tidak welcome, ya. Tetap petunjuk kiri kanan diperlukan.

Terkait ‘lingkungan nasionalis’ ini, saya mau berbagi cerita singkat yang saya dapat dari seorang driver Grab yang mengantarkan saya dari rumah (yang berhasil saya beli. Yayyy!) ke bandara. Dia bercerita dulu keluarga mereka yang beragama minoritas tinggal di lingkungan yang cukup hostile terhadap kaum mereka. Lambat laun, karena keluarga itu terus aktif di kegiatan lingkungan, tetangga-tetangga yang tadinya fanatik buta mulai terbuka mata hatinya. Mereka bisa hidup tenang pada akhirnya. Lesson learned: tetaplah memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada lingkungan kita, di mana pun kita tinggal, sebab tidak setiap saat kita bisa memilih rumah kita.

Advertisements

Rumah Kita (1)

“I never left because a part of me will always be in that house…” 
― J.X. Burros

AWALNYA

Tulisan ini terinspirasi dari pencarian saya sejak akhir tahun 2016. Ya, saya mencari rumah. Bermula dari kegelisahan saya menginjak usia 42: sekian lama bekerja, setua ini (ehem!), dan belum memiliki properti atas nama saya. Setiap pertemuan dengan manusia lain pasti ada maknanya. Mungkin karena aura ‘pencari rumah’ saya cukup besar saat itu, saya menarik orang-orang tertentu yang membantu saya mewujudkan impian saya. Orang-orang di sekitar saya yang (pernah) memiliki mimpi yang sama dan buku-buku yang saya unduh di internet semakin mengipasi keinginan saya. Salah satu buku yang mempengaruhi keputusan besar itu adalah buku klasik Rich Dad, Poor Dad karya Robert Kiyosaki (nyesel saya tidak baca buku itu saat saya lebih muda). Saya harus punya rumah selagi saya masih diberi umur dan kesempatan itu. Better late than never. 

TANAH ATAU RUMAH?

Seandainya boleh memilih, saya akan pilih tanah yang luas, lalu sedikit demi sedikit membangun rumah sesuai selera dengan halaman luas. Tapi di usia 42, pilihan saya tidak banyak lagi, saya harus realistis. Sekalipun tabungan saya cukup untuk membeli tanah impian saya, saya tidak akan mampu membangun rumah dalam waktu dekat. Saya saat ini masih hidup sendiri, jadi belum ada partner untuk berbagi kerepotan merencanakan rumah di antara kesibukan saya. Jika saya membeli rumah kavlingan di perumahan, saya masih punya kesempatan mendapatkan kredit bank untuk cicilan bulanan dan rumah sudah bisa ditempati. Selagi masih berstatus sebagai karyawan, saya akhirnya memutuskan untuk membeli kavling perumahan, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, termasuk harus rela jadi budak perbankan dalam jangka waktu tertentu. 😓 Saya harus berdamai dengan segala kondisinya. Kalau berlama-lama, saya takut kesempatan untuk memiliki rumah semakin menipis atau bahkan hilang.

RUMAH ADALAH TANAH BAGI AKAR KITA

Ada dua wilayah yang menjadi bayangan saya dalam memilih lokasi rumah: Bali, karena 8 tahun terakhir saya hidup di pulau yang penuh pesona ini; dan Yogyakarta, karena di sanalah saya dibesarkan dan menyerap sebagian besar nilai-nilai hidup saya. Dengan budget yang saya punyai dari single income, keduanya memungkinkan dengan satu kondisi: saya tidak mungkin membeli properti di area kota. Artinya, saya pasti hanya akan melirik area suburban dengan jarak tempuh berkendaraan ke pusat kota yang masih masuk di akal saya. Akhirnya saya memutuskan pilihan wilayah pencarian saya: Yogyakarta, dengan pertimbangan:

  1. Dengan harga yang sama, setidaknya saya bisa mendapatkan luas tanah yang lebih besar. Katakanlah, harga rumah 350 juta, di Tabanan Bali saya hanya bisa mendapatkan luas tanah 70 meter persegi, sementara di Sleman barat Yogyakarta bisa 100 meter lebih sedikit.
  2. Benar, Bali adalah tempat saya hidup dan berpenghasilan 8 tahun terakhir ini, tapi apakah Bali adalah ‘rumah’ bagi saya? Setiap kali saudara atau teman bertanya soal ini, jawaban saya selalu menggantung. Saya ragu. Bagi saya, keraguan itu sendiri adalah suara hati yang tidak mungkin saya bungkam. Senyaman-nyamannya kehidupan di pulau ini, saya kok tidak bisa membayangkan menghabiskan hari tua saya di Bali. Saya selalu ingin pulang. Pulang ke Jogja.

Yogyakarta bukan kota kelahiran saya, tapi di sanalah saya dibesarkan, ditempa, di-asam-garam-i sejak umur 2 tahun hingga pertengahan umur 30-an. Mungkin semakin berumur seseorang, semakin ia ingin kembali ke akarnya. Alam sepertinya mengatur segalanya. Di tengah-tengah upaya saya browsing rumah di Internet sampai mata jereng, sejumlah peristiwa membawa saya merasakan kerinduan akan akar saya: tanah Jawa, dan Yogyakarta tepatnya, dan setelah itu, segala sesuatunya seperti dimudahkan.

Rumah adalah tanah bagi akar kita bertumbuh.