Rumah Kita (1)

“I never left because a part of me will always be in that house…” 
― J.X. Burros

AWALNYA

Tulisan ini terinspirasi dari pencarian saya sejak akhir tahun 2016. Ya, saya mencari rumah. Bermula dari kegelisahan saya menginjak usia 42: sekian lama bekerja, setua ini (ehem!), dan belum memiliki properti atas nama saya. Setiap pertemuan dengan manusia lain pasti ada maknanya. Mungkin karena aura ‘pencari rumah’ saya cukup besar saat itu, saya menarik orang-orang tertentu yang membantu saya mewujudkan impian saya. Orang-orang di sekitar saya yang (pernah) memiliki mimpi yang sama dan buku-buku yang saya unduh di internet semakin mengipasi keinginan saya. Salah satu buku yang mempengaruhi keputusan besar itu adalah buku klasik Rich Dad, Poor Dad karya Robert Kiyosaki (nyesel saya tidak baca buku itu saat saya lebih muda). Saya harus punya rumah selagi saya masih diberi umur dan kesempatan itu. Better late than never. 

TANAH ATAU RUMAH?

Seandainya boleh memilih, saya akan pilih tanah yang luas, lalu sedikit demi sedikit membangun rumah sesuai selera dengan halaman luas. Tapi di usia 42, pilihan saya tidak banyak lagi, saya harus realistis. Sekalipun tabungan saya cukup untuk membeli tanah impian saya, saya tidak akan mampu membangun rumah dalam waktu dekat. Saya saat ini masih hidup sendiri, jadi belum ada partner untuk berbagi kerepotan merencanakan rumah di antara kesibukan saya. Jika saya membeli rumah kavlingan di perumahan, saya masih punya kesempatan mendapatkan kredit bank untuk cicilan bulanan dan rumah sudah bisa ditempati. Selagi masih berstatus sebagai karyawan, saya akhirnya memutuskan untuk membeli kavling perumahan, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, termasuk harus rela jadi budak perbankan dalam jangka waktu tertentu. 😓 Saya harus berdamai dengan segala kondisinya. Kalau berlama-lama, saya takut kesempatan untuk memiliki rumah semakin menipis atau bahkan hilang.

RUMAH ADALAH TANAH BAGI AKAR KITA

Ada dua wilayah yang menjadi bayangan saya dalam memilih lokasi rumah: Bali, karena 8 tahun terakhir saya hidup di pulau yang penuh pesona ini; dan Yogyakarta, karena di sanalah saya dibesarkan dan menyerap sebagian besar nilai-nilai hidup saya. Dengan budget yang saya punyai dari single income, keduanya memungkinkan dengan satu kondisi: saya tidak mungkin membeli properti di area kota. Artinya, saya pasti hanya akan melirik area suburban dengan jarak tempuh berkendaraan ke pusat kota yang masih masuk di akal saya. Akhirnya saya memutuskan pilihan wilayah pencarian saya: Yogyakarta, dengan pertimbangan:

  1. Dengan harga yang sama, setidaknya saya bisa mendapatkan luas tanah yang lebih besar. Katakanlah, harga rumah 350 juta, di Tabanan Bali saya hanya bisa mendapatkan luas tanah 70 meter persegi, sementara di Sleman barat Yogyakarta bisa 100 meter lebih sedikit.
  2. Benar, Bali adalah tempat saya hidup dan berpenghasilan 8 tahun terakhir ini, tapi apakah Bali adalah ‘rumah’ bagi saya? Setiap kali saudara atau teman bertanya soal ini, jawaban saya selalu menggantung. Saya ragu. Bagi saya, keraguan itu sendiri adalah suara hati yang tidak mungkin saya bungkam. Senyaman-nyamannya kehidupan di pulau ini, saya kok tidak bisa membayangkan menghabiskan hari tua saya di Bali. Saya selalu ingin pulang. Pulang ke Jogja.

Yogyakarta bukan kota kelahiran saya, tapi di sanalah saya dibesarkan, ditempa, di-asam-garam-i sejak umur 2 tahun hingga pertengahan umur 30-an. Mungkin semakin berumur seseorang, semakin ia ingin kembali ke akarnya. Alam sepertinya mengatur segalanya. Di tengah-tengah upaya saya browsing rumah di Internet sampai mata jereng, sejumlah peristiwa membawa saya merasakan kerinduan akan akar saya: tanah Jawa, dan Yogyakarta tepatnya, dan setelah itu, segala sesuatunya seperti dimudahkan.

Rumah adalah tanah bagi akar kita bertumbuh.