Rumah Kita (3)

β€œYour house shall be not an anchor but a mast It shall not be a glistening film that covers a wound, but an eyelid that guards the eye.”

― Kahlil Gibran, The Prophet

RUMAH MEREKA VS. RUMAH KITA

Beberapa bulan yang lalu saya sempat ngobrol dengan seorang kawan bule berkewarganegaraan Selandia Baru soal rumah. Dia memimpikan punya rumah di Indonesia suatu hari nanti. Aku ingin beli tanah yang luas, paling tidak 4 are (400 meter persegi), karena aku tidak suka rumah yang dempet-dempet sama tetangga. Ya, dengan penghasilannya, tentunya dia punya pilihan seperti itu. Tinggal cari bini orang lokal saja, paling. 😁😁😁

Dari program-program televisi di saluran HGTV dan fyi yang belakangan getol saya tonton, dan setelah memperbandingkan fitur-fitur rumah orang kebanyakan di Indonesia (‘kebanyakan’ dalam artian kelas menengah secara sosial ekonomi), saya berpikir, betapa beruntungnya mereka yang hidup di Amerika Serikat, sebagian negara di Eropa, dan Australia itu karena mereka bisa memiliki space atau ruang yang luas. Sementara itu, kita ‘harus puas’ memiliki rumah-rumah kecil dengan luas tanah yang sangat terbatas pula. Mereka menikmati ‘kemewahan’ memiliki privasi dengan ruang pemisah yang lebar di antara rumah mereka dan tetangga. Di lain pihak, banyak di antara kita yang harus berbagi dinding dengan tetangga – satu di kiri, satu di kanan rumah. Tapi ya, mana boleh mengeluh? Bisa punya atap di atas kepala kita saja sudah Alhamdulillah, Puji Tuhan, toh? 😊

Space dan fitur-fitur rumah itu mencerminkan kecenderungan sosial masyarakat terkait. Saya tidak ingin membahas aspek ekonomi dan kependudukan di Β sini, karena perbedaannya terlalu nyata. Ada hal-hal menarik yang saya temukan dari perbedaan ‘rumah mereka’ dan ‘rumah kita’ secara sosio-budaya.

JARAK ANTAR RUMAH

Space antar rumah yang lebar secara langsung maupun tidak langsung mengisyaratkan masyarakat yang menekankan pentingnya ‘mind your own business’ atau privasi. Banyak rumah di Amerika seperti terlihat di film-film memiliki halaman depan terbuka tanpa pagar depan yang tegas, tetapi jarak batas rumah dengan rumah tetangga relatif lebar. Selain ini mungkin sudah menjadi peraturan tata kota mereka, secara metaforik ini merupakan pencerminan masyarakat yang terbuka,Β straightforward, speak their mindsΒ untuk urusan-urusan publik, tapi tertutup untuk urusan-urusan pribadi dan rumah tangga. Tetangga hanya bisa melihat kegiatan penghuni rumah sebatas halaman depan saja. Selebihnya, MYOB!

Bandingkan dengan masyarakat rumah dempet, atau yang jarak antar rumahnya sangat sempit atau bahkan tidak ada. Masalah pribadi kadang bisa jadi urusan tetangga atau orang-orang di luar keluarga inti. Bagusnya, anggota masyarakat tipe ini biasanya bisa saling jaga; masing-masing berperan dalam memastikan pranata yang berlaku di masyarakat dijalankan. Sisi negatifnya terutama terasa bagi mereka yang tidak suka urusan rumah tangganya direcoki tetangga yang kepo. Mereka yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk tapi individualis biasanya memilih untuk membangun pagar tinggi-tinggi. Selain untuk alasan keamanan, secara metaforik pagar tinggi juga mengisyaratkan LMA, Leave Me Alone.

DAPUR

Rumah-rumah ala Barat banyak yang memiliki dapur yang luas, dengan deretan lemari penyimpanan atas dan bawah yang rapi dan perangkat standar: built-in stoves, oven, exhaust, lemari pendingin, tempat cuci piring, dan terkadang microwave. Semua ini menunjukkan sistem organisasi yang sangat baik di bidang persiapan memasak hidangan. Tidak hanya itu, banyak dapur mereka yang dilengkapi sebuah ‘island’ atau meja yang biasanya terletak berseberangan dari konter meja dapur. Di sinilah biasanya si pemasak mempersiapkan bahan-bahan olahannya sembari berbincang dengan anggota keluarga lainnya. Itu sebabnya, banyak island dilengkapi kursi-kursi di sekelilingnya, agar penghuni rumah tetap bisa berkomunikasi sementara masakan sedang disiapkan. Di sekitar ‘island’ ini juga, kadang-kadang mereka mengundang sahabat-sahabat dekat mereka untuk bercengkerama sebelum makan malam. Kerapian, keteraturan, kehangatan dan harmoni tercipta di dapur-dapur mereka. Dapur yang tidak mempunyai pembatas yang tegas dengan ruangan lain juga berarti transfer ‘ilmu perdapuran’ jadi lebih seamless atau mudah. Urusan food preparationΒ bisa dilakukan siapa saja di rumah itu. Dalam proses memasak, dari awal hingga akhir, posisi si pemasak lebih banyak berdiri atau duduk di atas kursi yang tingginya menyesuaikan tinggi island, artinya aspek higienitas sangat ditekankan, karena tanah atau lantai identik dengan kuman dan kotoran.

Banyak rumah modern di Indonesia meniru model dapur ala barat, tapi dahulu dapur kita adalah ruangan terpisah dari ruangan lain. Berbeda dengan yang terjadi di dapur barat, persiapan memasak di Indonesia biasa dilakukan di lantai. Lantai kan kotor? Di sinilah persepsi masyarakat kita berbeda. Bersih itu harus, tapi higienis adalah konsep yang baru datang Β kemudian. Makanya ada mebel khusus yang khas di negeri ini: dingklik. Si tukang masak duduk di atas dingklik yang tingginya sekitar 15-20 cm dari lantai, sementara bahan-bahan yang mau diolah diletakkan di atas tampah di lantai. Kegiatan memasak secara tradisional seperti ini juga sering menjadi sebuah aktivitas sosial di mana para pemasak duduk di atas dingklik masing-masing, tangan mengulek cabe, mulut berbagi gosip tetangga. Ruang dapur yang terpisah bisa diartikan keberpisahan antara urusan dapur (ibu-ibu dan pembantu rumah tangga, secara tradisi) dan di luar dapur. Mereka yang di luar dapur (bapak-bapak dan anak-anak lelaki, terlebih di masa lalu) tidak tahu urusan dapur. Tahunya menikmati hidangan yang disajikan di atas meja, tanpa pernah tahu cara memasaknya.

Munculnya trend dapur dengan konsep terbuka di rumah-rumah di Indonesia modern sebenarnya tidak mengherankan. Selain karena exposure dari tontonan di televisi maupun Internet, masyarakat kita semakin mengaburkan batas mengenai peran gender. Memasak adalah urusan semua orang. On the flip side, jenis-jenis masakan kita juga semakin ‘membarat’ karena masakan-masakan barat cenderung jauh lebih simpel persiapannya. Olahan masakan nusantara rumahan semakin langka. 😒

Advertisements

Religiofragilisticexpiaridiculous

I remember a time when I was in high school. It was a state-owned school, one of the best in town (people said). But sadly, I never thought that my high school period was the high moment in my life. Of course, I was that shy, ugly teenage girl, then :), but what bothered me most was how some people – friends and teachers – acted and said something foolishly in the name of religion. How could you ever think of finding a date when the first thing they’d ask you was your religious belief, especially when you happen to belong to the minority? Some even thought the greeting card you sent them in their religious occasion was tainted with some dark ideas behind it, just because you don’t share their belief. What a sweet moment, indeed…

Good if you can understand this, because I can’t. It’s all too familiar to me, I can feel it in my stomach.

Wanted: deus ex machina

I don’t believe in the word toleration, though I can’t help tolerating others’ behaviors and actions at times. Living in a culture where you should have one of the five officially approved religions written on your national ID, I’ve learned also to acknowledge lies and hypocrisy. No need to say how much they irritate me – yes, I am that nice girl. Besides, it doesn’t help to be radical in this country when it comes to not having any religious belief, trust me. It’s not worth it.

It was a fine Sunday morning. I took Olga to her Sunday school (she is in a prep to receive her first holy communion). The night before she told me that next week there would a recollection and all parents were invited. I wonder if I could skip, I asked her half-jokingly. That good girl of mine said no. She then asked if I still remembered how to say prayers. I remembered, at least, The Lord’s Prayer and Hail Mary.

“Do you still pray at all, mom?” she asked me one night. I told her that I didn’t want to burden God. He must have been swamped in work, answering prayers, I said. She laughed, but I could read concern on her face. “But what if,” she further asked. “What if you were on an airplane and it’s about to crash, wouldn’t you pray?” I would. Also in situations like when my loved ones are seriously ill. I would so… absurdly… inconsistently… pray. Hoping for a miracle to work.

Other than those extremes, I’d rather work things out by myself, or at least, by help of others (human beings). That’s why I hate how things work in the mainstream Hollywood movies. The deus ex machina mentality that they inherently possess. Things aren’t always that sweet, honey!

What I can accept about religion and its practices is that it is an effort in search for comfort and peace of mind. Like using drugs, nail biting, and sometimes, telling lies and being hypocritical. The recollection next Sunday? I’ll think up of something.