Rumah Kita (5)

“The ornament of a house is the friends who frequent it.”
― Ralph Waldo Emerson

MENIUPKAN ENERGI BAIK  – OBJEK-OBJEK NON-MANUSIA

Konsep ‘home’ dan bukan ‘house’ itu abstrak. Kita hanya bisa merasakan energinya yang tak kasat mata. Dalam ungkapan Jawa, marai krasan atau bikin kerasan, adalah efek yang timbul dari suasana rumah yang membuat penghuni dan tamu merasa nyaman, ‘adem’, dan ingin berlama-lama berada di dalamnya. Bahkan di Jawa ada guyonan lama mengenai rumah yang ‘marai krasan’. Tamu dikatakan betul-betul kerasan kalau sudah buang air besar di rumah orang itu. Artinya, bahkan orang lain pun merasa ngomah, merasa seakan berada di rumahnya sendiri.

Sebenarnya energi sebuah rumah itu mengikuti kepribadian dan energi pemiliknya. Kalau pemiliknya tertutup, secara fisik rumahnya pun akan memiliki fitur-fitur yang selaras dengan sifat itu. Begitu juga, pemilik rumah yang tidak pedulian, apa yang dimunculkan di lingkup rumahnya juga pasti sedikit banyak mencerminkan hal tersebut. Seorang tamu akan merasa kerasan berada di sebuah rumah apabila energi rumah dan tuan rumahnya selaras dengan energinya. Karena saya ingin memaksimalkan energi baik di rumah saya, saya juga ingin rumah saya mengundang orang-orang dan benda-benda dengan energi baik.

Di postingan sebelumnya, saya mengatakan bahwa bagian depan rumah saya harus memberi pesan keramahan dan keterbukaan. Saya mau sebagian halaman saya terbuka menghadap langit dan ditanami tumbuh-tumbuhan yang bagi saya mempunyai sifat baik, ramah, dan ceria. Untuk interior, saya menabung untuk bisa membeli perabotan dari kayu. Saya mengusahakan seminim mungkin bahan plastik, karena plastik terlalu impersonal dan instan. Sementara itu, kayu datang dari alam (kebetulan elemen saya berdasar shio adalah kayu. mmm… njur ngopo yo? 😁) Kayu bisa dicustom-made sesuai selera dan kondisi ruangan. Fungsi dan estetika bisa seselaras yang kita inginkan. Kebetulan di Yogyakarta ada cukup banyak pengrajin mebel, dan sebisa mungkin saya akan mendukung usaha lokal dengan memesan perabotan dari mereka dan bukan dari home deco franchise besar. Ini salah satu langkah menyatu dengan alam setempat dan lingkungan sosial, menurut hemat saya (yang memang harus berhemat).

Urusan styling interior rumah sesungguhnya merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan, terutama kalau budget kita memungkinkan. Pemilihan dekorasi dan warna saya sesuaikan dengan model rumah, besar-kecil ruangan kosong di dalam ruang, dan mood yang ingin kita ciptakan untuk diri sendiri dan tamu-tamu kita. Secara pribadi saya suka warna biru, turquoise, dan warna-warna pastel lain. Warna merah saya gunakan hanya sebagai aksen dan efek dinamis.

Saya suka ruang-ruang berkumpul yang terbuka, di mana obrolan asyik dan ide-ide kreatif mungkin terlahir. Di dalam rumah saya sudah ada meja makan, ruang tamu (yang masih kosong), dan pojok kerja (berupa meja kerja lucu). Di halaman depan dan pekarangan belakang masih memungkinkan untuk diciptakan ruang-ruang berkumpul lainnya kelak. Nyicil mimpi dulu, boleh kan? 😄

MENIUPKAN ENERGI BAIK – MANUSIA

Setelah ada rumah, salah satu hal pertama yang bisa kita lakukan adalah mendoakan rumah itu. Tujuannya jelas: untuk membersihkan ruang-ruang yang ada dari kemungkinan energi-energi negatif dan mengundang aura kebaikan dan perlindungan bagi rumah dan penghuninya. Dalam waktu satu mingguan, saya mengorganisir kegiatan doa bersama di rumah saya. Bayangkan, saya ada di Bali sementara rumah ada di Jogja. Semua harus sudah siap sebelum saya terbang pulang, jadi lumayan kalang kabut waktu itu. Tapi mungkin benar kata orang. Niat baik akan didukung oleh orang-orang baik pula. Bantuan dari keluarga dan sahabat-sahabat berdatangan sebelum dan saat Hari H. Ada yang membantu mencarikan frater, ada yang membantu dengan kehadiran mereka, ada yang mengirimkan bingkisan makanan, ada yang membawa bingkisan tanaman dan hiasan rumah, dan terlebih lagi, banyak yang mengirimkan doa. Luar biasa!

Satu hal yang sungguh bermakna dari acara pemberkatan rumah saya adalah suasana ceria dan penuh tawa dari semua yang hadir. Suasana doa yang  khidmat sesekali diselingi kelucuan-kelucuan  tak terduga yang menimbulkan gelak tawa. Buat saya yang tidak terlalu suka formalitas, semua itu adalah berkah yang tiada taranya. Momen itu juga menjadi ajang ‘nambah sedulur’ atau nambah saudara bagi kami yang berkenalan dengan beberapa orang baru. Walaupun ibadat dibawakan menurut agama yang saya anut, yang hadir ada yang berbeda agamanya. Semuanya hadir untuk satu tujuan: meniupkan spirit baik di rumah saya. Seperti itulah energi yang musti mengisi rumah saya: ketulusan dan kebahagiaan. Semesta bersama mereka yang bahagia. Semoga!

Advertisements

Rumah Kita (4)

“The fairies, as their custom, clapped their hands with delight over their cleverness, and they were so madly in love with the little house that they could not bear to think they had finished it.” 
― J.M. BarriePeter Pan in Kensington Gardens

Bagian ini tidak bisa dipisahkan dari postingan sebelumnya mengenai ‘Rumah Mereka’ vs. ‘Rumah Kita’. Kalau Rumah Kita bag. 3 belum dibaca, mohon segera ke tkp ya… 😉

KAMAR MANDI

Di ‘rumah mereka’ kamar mandi merupakan ruangan yang sangat krusial. Sewaktu saya numpang di rumah mantan supervisor saya di Honolulu, Hawai’i, keluarganya memiliki master bathroom yang hanya bisa diakses dari kamar utama mereka, dan kamar mandi kedua yang bisa saya pakai secara bergantian dengan putri mereka. Kamar mandi utama atau master bathroom ini biasanya memiliki bathtub, shower, toilet dan vanity; sementara kamar mandi kedua memiliki semuanya kecuali bathtub. Di kamar mandi mereka, air mandi ‘diarahkan’ untuk mengalir hanya di lobang pembuangan. Dinding kaca atau tirai plastik dipasang untuk menghindarkan air memercik ke lantai kamar mandi. Kamar mandi mereka relatif luas, well organized, berdekorasi dan berkelengkapan baik, serta kering. Banyak rumah yang memiliki fitur half bathroom atau powder room yang bisa dipergunakan tamu (yang mungkin hanya perlu numpang buang air dan cuci tangan, tidak mandi). Master bathroom hanya diperuntukkan tuan dan nyonya rumah. Arti tersiratnya: urusan pribadi tidak untuk dibagikan ke orang-orang lain. Privasi.

Sementara itu, di kamar mandi kita, terkadang satu kamar mandi digunakan oleh semua orang, tidak peduli itu tuan rumah, anak-anak, maupun tamu. Tamu bisa melihat sikat gigi dan pasta gigi merk apa yang dipakai tuan rumah, bahkan mungkin jenis pisau cukur dan pembalut kewanitaan si penghuni. Artinya: privasi bukan hal utama. Hal -hal paling pribadi pun bisa menjadi urusan orang-orang di luar keluarga inti yang menghuni rumah. Ini tidak mengejutkan mengingat sifat sosial masyarakat kita yang sangat tinggi dibandingkan masyarakat Amerika, misalnya. Apalah artinya urusan berbagi tempat mandi dan buang air? Dulu kakek-kakek kita mandi di sungai beramai-ramai dengan teman-teman sebaya. Bahkan mandi pun urusan sosial. Saat ada kematian warga di lingkungan kita, lagi-lagi memandikan jenazah adalah perkara sosial. Bandingkan dengan lingkungan yang menggarisbawahi privasi. Urusan memandikan jenazah adalah urusan profesional rumah kematian.

Jadi, jangan sedih kalau kamar mandimu cuma satu-satunya di rumahmu. Itu karena kita, masyarakat Indonesia, sangat sosial! 😂😁

Catatan Pribadi mengenai Pagar & Taman Depan Rumah

Beberapa saat lalu, Mas Developer Perumahan saya mengirimkan foto bagian depan rumah saya via WA karena kondisinya saya berada di Bali. Saya kaget sudah ada pagar berupa palang-palang lebar melintang horizontal dan tersusun rapat. Bagus sebenarnya, tapi tidak sesuai dengan visi saya mengenai pagar rumah saya. Saya minta pagar diganti pagar besi vertikal yang lebih langsing, tidak rapat susunannya, dan sederhana. Kenapa? Karena saya ingin rumah saya terlihat welcoming, jadi saya ingin taman saya nantinya bisa jelas terlihat dari luar. Saya tidak mau pagar yang dominan karena efek yang ditimbulkan adalah individualis dan tertutup. Saya mau kalau tetangga lewat dan saya kebetulan ada di teras, kami bisa saling melempar sapaan.

Taman saya saat ini sudah ditanami rumput, pohon jepun (kamboja Bali yang bunganya lebih kecil dibanding kamboja pekuburan 😁), pokok kembang sepatu dan bunga asoka. Seorang rekan yang berprofesi housekeeper dan berpengalaman dalam landscaping hotel menyarankan saya untuk menanam bunga berwarna merah di depan rumah. Dia menganjurkan bunga sepatu atau hibiscus karena termasuk bunga iklim tropis yang tahan panas dan berbunga sepanjang tahun. Kenapa merah? Katanya warna merah bagus untuk mengundang rejeki. Ya sudah, saya nurut, toh tidak ada ruginya. Bunga jepun (plumeria) saya pilih karena aroma tropikalnya yang menenangkan. Rasanya sangat menyenangkan saat membuka pintu rumah di pagi hari dan disambut semerbak wangi frangipani/jepun/plumeria yang ramah ini. Bunga ini mewakili kehidupan di Bali yang saat ini masih saya jalani. Sementara, rumpun asoka atau soka, hadir tidak terduga dari seorang sahabat yang menghadiri acara pemberkatan rumah saya minggu lalu. Bunga soka membawa kenangan masa kecil saya: mengisap nektar dari batang bunganya. Baik dan manis ya, bunga ini! 😄😊

Rumah Kita (1)

“I never left because a part of me will always be in that house…” 
― J.X. Burros

AWALNYA

Tulisan ini terinspirasi dari pencarian saya sejak akhir tahun 2016. Ya, saya mencari rumah. Bermula dari kegelisahan saya menginjak usia 42: sekian lama bekerja, setua ini (ehem!), dan belum memiliki properti atas nama saya. Setiap pertemuan dengan manusia lain pasti ada maknanya. Mungkin karena aura ‘pencari rumah’ saya cukup besar saat itu, saya menarik orang-orang tertentu yang membantu saya mewujudkan impian saya. Orang-orang di sekitar saya yang (pernah) memiliki mimpi yang sama dan buku-buku yang saya unduh di internet semakin mengipasi keinginan saya. Salah satu buku yang mempengaruhi keputusan besar itu adalah buku klasik Rich Dad, Poor Dad karya Robert Kiyosaki (nyesel saya tidak baca buku itu saat saya lebih muda). Saya harus punya rumah selagi saya masih diberi umur dan kesempatan itu. Better late than never. 

TANAH ATAU RUMAH?

Seandainya boleh memilih, saya akan pilih tanah yang luas, lalu sedikit demi sedikit membangun rumah sesuai selera dengan halaman luas. Tapi di usia 42, pilihan saya tidak banyak lagi, saya harus realistis. Sekalipun tabungan saya cukup untuk membeli tanah impian saya, saya tidak akan mampu membangun rumah dalam waktu dekat. Saya saat ini masih hidup sendiri, jadi belum ada partner untuk berbagi kerepotan merencanakan rumah di antara kesibukan saya. Jika saya membeli rumah kavlingan di perumahan, saya masih punya kesempatan mendapatkan kredit bank untuk cicilan bulanan dan rumah sudah bisa ditempati. Selagi masih berstatus sebagai karyawan, saya akhirnya memutuskan untuk membeli kavling perumahan, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, termasuk harus rela jadi budak perbankan dalam jangka waktu tertentu. 😓 Saya harus berdamai dengan segala kondisinya. Kalau berlama-lama, saya takut kesempatan untuk memiliki rumah semakin menipis atau bahkan hilang.

RUMAH ADALAH TANAH BAGI AKAR KITA

Ada dua wilayah yang menjadi bayangan saya dalam memilih lokasi rumah: Bali, karena 8 tahun terakhir saya hidup di pulau yang penuh pesona ini; dan Yogyakarta, karena di sanalah saya dibesarkan dan menyerap sebagian besar nilai-nilai hidup saya. Dengan budget yang saya punyai dari single income, keduanya memungkinkan dengan satu kondisi: saya tidak mungkin membeli properti di area kota. Artinya, saya pasti hanya akan melirik area suburban dengan jarak tempuh berkendaraan ke pusat kota yang masih masuk di akal saya. Akhirnya saya memutuskan pilihan wilayah pencarian saya: Yogyakarta, dengan pertimbangan:

  1. Dengan harga yang sama, setidaknya saya bisa mendapatkan luas tanah yang lebih besar. Katakanlah, harga rumah 350 juta, di Tabanan Bali saya hanya bisa mendapatkan luas tanah 70 meter persegi, sementara di Sleman barat Yogyakarta bisa 100 meter lebih sedikit.
  2. Benar, Bali adalah tempat saya hidup dan berpenghasilan 8 tahun terakhir ini, tapi apakah Bali adalah ‘rumah’ bagi saya? Setiap kali saudara atau teman bertanya soal ini, jawaban saya selalu menggantung. Saya ragu. Bagi saya, keraguan itu sendiri adalah suara hati yang tidak mungkin saya bungkam. Senyaman-nyamannya kehidupan di pulau ini, saya kok tidak bisa membayangkan menghabiskan hari tua saya di Bali. Saya selalu ingin pulang. Pulang ke Jogja.

Yogyakarta bukan kota kelahiran saya, tapi di sanalah saya dibesarkan, ditempa, di-asam-garam-i sejak umur 2 tahun hingga pertengahan umur 30-an. Mungkin semakin berumur seseorang, semakin ia ingin kembali ke akarnya. Alam sepertinya mengatur segalanya. Di tengah-tengah upaya saya browsing rumah di Internet sampai mata jereng, sejumlah peristiwa membawa saya merasakan kerinduan akan akar saya: tanah Jawa, dan Yogyakarta tepatnya, dan setelah itu, segala sesuatunya seperti dimudahkan.

Rumah adalah tanah bagi akar kita bertumbuh.