To a candle put off (the funny guy with the sad eyes)

Dead Poets Society

Like any other morning, I woke up earlier than my alarm this morning, a little perplexed by a dream I had. I remembered it vaguely; it involved a chasing scene I suspected having a correlation with The Walking Dead I’d been watching back-to-back the day before. I checked on my Facebook timeline on my smartphone only to find shocking news: Robin Williams is dead. I prepared my coffee, black and strong.

I don’t know Robin Williams in person, but I know he had done something very important in my life. That small highlight on my life timeline was when I was still teaching at the English Language Education program at a university in Yogyakarta, Indonesia. I used “Dead Poets Society” as one of my teaching materials in my Drama class. We played the movie in our language lab several times, and I encouraged my students to rent the dvd from a local rental to further study the movie. I gave them topics they could choose from, such as character analysis, plot analysis, and symbolism, to be developed into an academic essay. It was 2001 or 2002, I don’t remember exactly; it was when the Internet was not as advanced and widely accessible as today, but it was the time when we, teachers, started to wonder why these younger generations seemed to develop impatience toward reading novels, textbooks, or any other longer materials.  I used films because films were definitely part of my students’ reality. Back to Mr. Williams, his portrayal of John Keating (easily a reference to the short-lived Brit Romantic poet John Keats) was bigger than life. Like little Todd, I was inspired. My Drama class students got inspired. They began to explore materials, both online and offline. They read. They quoted. They put down their ideas on paper. They learned from crosses and yellow marker highlights I made on their paper. They wrote essays they were proud of. I was proud of them. I learned one important thing from their initial laziness: TEACHERS SHOULD DEVELOP MATERIALS USING TOOLS THAT ARE CLOSE TO THEIR STUDENTS’ REALITY.

I went to work as I was supposed to, no longer as a teacher, of course. I threw jokes around my colleagues like I habitually do. I went to meet a travel blogger from New Zealand whom we hosted. We talked about how the Balinese lead their lives, about life twists, a book called The Journey of Souls, and Bali coffee. We didn’t talk about Robin Williams, but shortly after the meeting, I was suddenly reminded of depression, the silent killer: my own, years ago; a few family members’; a dear friend’s. We live a relatively happy life on the surface, but what goes on beneath is sometimes a wolf — conditioned, but not tamed.

Now, before you say that Robin Williams had done nothing to my life (that everything I felt was just an emotional outburst), think about the movies you remember he was in. How many of them gave you chills and touched your humanity? I think that exactly how he contributed to life: by choosing to be part of those moments when a fictional character is able to move something inside of the audiences. Through those movies, Robin Williams had made a decision after a decision to be an agent that helped us see how to be a better person. His portrayal of John Keating in DPS did that to me. 

“Please, don’t worry so much. Because in the end, none of us have very long on this Earth. Life is fleeting. And if you’re ever distressed, cast your eyes to the summer sky when the stars are strung across the velvety night. And when a shooting star streaks through the blackness, turning night into day… make a wish and think of me. Make your life spectacular. I know I did.”

Like Neil in Dead Poets Society, Robin Williams decided to leave the life he led. The funny guy with the sad eyes. I am sure that, like Neil’s, his death — and despite my own limitation in understanding such a fatal decision could have been made by someone whose existence had inspired many — will spark flames in others’ lives to carry on and contribute to life.

So I started to write again, starting with this one. I continue weighing a decision after a decision. Rest in Peace, Robin Williams. Thank you for your contribution to life.

Belajar Nge-les ala Dexter, atau Harry’s Code

don't tell them, k?

Apa yang bisa dicontoh dari seorang pembunuh berantai? Jelas bukan teknik membunuhnya. Sulit dibayangkan bagaimana mungkin seseorang yang telah menghabisi nyawa banyak orang ini bisa menjadi semacam tokoh panutan. Apakah ada di antara Anda yang menyukai Ryan Jombang, Baekuni alias Babe, atau Robot Gedek? Karena saya percaya jauh lebih banyak orang baik (atau normal?) dibandingkan orang jahat (atau gila?) di dunia ini, saya yakin sebagian besar menjawab “tidak.” Jadi, mengapa Dexter bisa demikian disayangi? Mengapa film seri tentang seorang tokoh antagonistik dan gelap bisa terus bertahan hingga lima musim dan sampai beberapa kali mendapat nominasi penghargaan Emmy sebagai serial drama terbaik? Rasa penasaran adalah wajar dan alami karena kita sebagai penonton selalu ingin mengintip “apa yang sebenarnya terjadi di dalam bilik gelap seorang pembunuh,” tapi ini bukanlah faktor yang menyebabkan kita jatuh hati kepadanya. Ada hal-hal yang dimiiki Dexter namun tidak dimiliki pembunuh-pembunuh berantai lainnya. Atau, sebaliknya, ada hal-hal yang mereka lakukan yang tegas-tegas tidak dilakukan Dexter. Dexter serupa namun tak sama dengan Robin Hood, si maling budiman, meskipun tidak tepat juga menjulukinya “pembunuh budiman,” karena ia keji dan tanpa ampun terhadap korban-korbannya.

Sedikit mengenai latar belakang Dexter

Dexter Morgan bekerja untuk Kepolisian Metro Miami sebagai pakar forensik dengan spesialisasi analisa cipratan darah (hmm… cipratan darah aja ada sekolahnya!) Adik tirinya, Debra Morgan, adalah detektif di kepolisian itu. Ibu kandung Dexter, Laura Moser tewas mengenaskan dengan cara dimutilasi disaksikan langsung oleh Dexter kecil yang saat itu berumur 3 tahun. Itulah awalnya Dexter diadopsi oleh Harry Morgan, ayah kandung Debra, yang juga seorang polisi. Harry yang sudah mengetahui kecenderungan gelap putra angkatnya (sejak kecil serta merta membunuh anjing tetangga yang tak hentinya menggonggong hingga mengganggu tidur ibunya, juga hewan-hewan lain yang dianggap pengganggu ketentraman), tahu bahwa dirinya tidak punya kuasa untuk menghentikannya. Seiring waktu, naluri membunuh Dexter semakin tumbuh. Satu-satunya yang bisa dilakukan Harry sebagai orangtua adalah menerima kenyataan pahit itu sebagai bagian dari eksistensi putranya. Ia menerapkan semacam manual atau “tatacara membunuh yang baik… eh, maksud saya, efektif dan efisien.”

The Harry’s Code

Never do it to a kid
Sekriminil-kriminilnya Dexter, dia tidak ada hati untuk melukai anak-anak. Dia dekat dengan anak-anak Rita, sang pacar. Ini mencerminkan pula pola hubungan bapak-anak antara Dexter dan Harry. Di antara trauma-trauma yang dialami di masa kecilnya, sosok Harry hadir sebagai penyeimbang bagi Dexter yang bagaikan keramik, sudah retak sejak tragedi terbunuhnya ibu kandungnya. Dari diri Harry, Dexter merasakan penerimaan yang luar biasa. Maka tidak mengherankan jika Dexter pun memiliki standar serupa terhadap anak-anak. Menyadari bahwa sebuah tragedi dapat mengubah seorang anak kecil tak berdosa menjadi monster, Dexter akan melakukan apa saja untuk melindungi jiwa-jiwa yang masih suci itu. Dan bisa diduga, salah satu korban Dexter adalah golongan “pemangsa” anak-anak alias pedofilia. Jadi, jangan coba-coba samakan dia dengan Robot Gedek atau Babe Baekuni. Mereka justru korban-korban potensial Dex!

Killing with a cause
Harry tidak mampu menghentikan Dexter untuk menghabisi nyawa orang, tapi ia bisa melarangnya untuk membunuh tanpa alasan yang jelas. “Make sure the world is a little bit better after the crook dies, otherwise, it’s nothing more than murder.” Ya, membunuh orang pun harus ada misinya. Harry hanya mengijinkan Dexter membunuh “sampah masyarakat,” yang hanya akan membuat lebih banyak manusia merana jika dibiarkan hidup. Karena “sampah” maka tempat terbaik bagi mereka adalah kantong-kantong sampah. Bagian akhir dari ritual Dexter adalah membuang kantong-kantong sampah berisi… (Anda tahu berisi apa) ke tengah laut. Tercatat, selain pedofilia, pengedar narkoba, jaksa korup, perawat malpraktik, dan penculik/penjual anak-anak termasuk ke dalam daftar maut Dexter. Kalau Anda disuruh membuat daftar “sampah masyarakat” seperti itu, siapa saja yang ingin sekali Anda masukkan? (Saya punya daftar saya, mungkin kapan-kapan bisa kita cocokkan, siapa tahu ada yang sama…) Maka cukup jelaslah bahwa karakter seperti Dexter adalah simbol angan-angan bawah sadar kita tentang keadilan yang kadang tidak bisa ditegakkan di jalur hukum formal. Begitu banyaknya kejahatan yang tidak tersentuh hukum yang membikin rasa keadilan kita geram dan sekaligus tidak berdaya. Dan bukankah kita diam-diam bersyukur apabila tokoh seperti Dexter benar-benar ada?

No matter how you feel, when somebody is taking your photo, SMILE!
Justru karena Dexter berbeda, Harry megajarkannya untuk tampil sama seperti orang-orang kebanyakan. Dexter remaja sulit menerima penjelasan Harry mengapa ia harus berpura-pura normal, tetapi Harry meyakinkannya bahwa tidak ada cara lain apabila ingin bertahan hidup dan selamat dari jeratan hukum atas perbuatannya. Semakin dewasa nilai ini makin tertanam dalam dirinya. Walaupun sejak awal menyadari kekosongan dalam dirinya (ia tidak memiliki emosi-emosi sedih, gembira, kehilangan, kekhawatiran sebagaimana yang dirasakan manusia normal, selain dari insting hewaninya), Dexter semakin mahir menjalankan perannya sebagai orang biasa. Ia hidup bersih dari rokok dan narkoba, menjaga hubungan kakak-adik yang sangat baik dengan Debra, menjadi anak yang baik bagi Harry (dalam artian, menuruti sebagian besar nasihat-nasihat Harry), mengencani perempuan baik-baik dan kemudian menikahinya, menjadi ayah dan suami yang baik, menjadi teman yang relatif baik bagi rekan-rekan kerjanya, dan menjalankan profesinya sebagai ahli forensik dengan sangat baik pula. Dexter adalah Dr. Jekyll dan Mr. Hyde, menjalani kehidupan gandanya dengan nyaris sempurna. Nyaris, karena dalam perjalanan hidupnya, Dexter bertemu dengan tokoh-tokoh yang begitu dekatnya dengan penyingkapan tabir jati dirinya yang sebenarnya, yang berarti mengancam ke-”normal”-annya. Di Season I dari serial Dexter, ada “the ice truck killer” yang tak lain adalah kakak kandung Dexter, yang sama-sama mengalami trauma kematian sang ibu. Di Season II, ada Detektif Doakes yang selalu mencurigai gerak langkahnya, dan Lila, wanita neurotik yang merasa diri belahan jiwa Dexter. Di Season III ada Miguel Prado, jaksa penuntut kenamaan yang sempat menjadi partner kejahatan Dexter. Lalu, di Season IV ada Trinity, pembunuh berantai yang berhasil merangsek masuk ke sisi kehidupan normal Dexter dan menghabisi nyawa istrinya. Semua nama tersebut, terkecuali Doakes, berakhir di dasar laut di dalam kantong-kantong sampah.

Faktor Harry’s Code atau Nilai-nilai Harry yang diterapkan Dexter-lah yang menjadikannya memiliki kualitas manusiawi yang tetap terpelihara. Meskipun Dexter terkesan datar, dingin, tanpa emosi, ada saat-saat di mana kita tersentuh oleh kata-kata dan perbuatannya, terutama terhadap Debra, Rita, dan anak-anaknya. Menjalani kehidupan ganda itu seorang diri setelah kematian Harry, membuatnya menjadi karakter soliter, menanggung segala beban dan di saat yang bersamaan harus menjadi “normal,” yang tidak terhindarkan menerbitkan rasa kasihan kita kepadanya. Faktor lain, dan ini yang sebenarnya lebih menakutkan, adalah sifat pendendam yang sedikit-banyak ada di dalam diri kita masing-masing “mengijinkan” kita untuk menantikan aksi-aksi Dexter. Kita ingin orang-orang jahat itu mati! Bukankah itu sangat manusiawi/hewani?

Posted with WordPress for BlackBerry.

Eat Pray Love… a white woman’s perspective as seen by a cappucino brown woman


Finally, I managed to have a copy of this novel! Setelah rekomendasi dari seorang kerabat yang mengatakan bahwa saya harus membaca memoir Elizabeth Gilbert lebih dari setahun yang lalu. Terus terang ada rasa enggan untuk membaca sesuatu yang “saya rasa saya tahu maknanya,” just because saya sedikit banyak mengalami apa yang dialami oleh Ms. Gilbert. Saya akhirnya membeli novel ini di Gramedia minggu lalu karena (1) ada edisi Penguin yang harganya jauh lebih murah dengan sampul Julia Roberts yang sedang duduk di bangku sambil makan frozen yoghurt; (2) ego sok elitis saya nggak membolehkan saya menonton filmnya kelak tanpa membaca sumbernya terlebih dahulu; dan (3) Bali menjadi salah satu unsur terpenting dari kisah itu, dan saya tinggal di Bali pula, maka saya harus membacanya demi untuk bisa mendiskusikannya dengan objektif dengan siapa saja kelak (ambisius sekaleee!). Dan ini sedikit saja catatan pribadi saya mengenai novel 400-an halaman itu:

1. Bagian pertama, Italy, adalah bagian yang paling menyenangkan untuk diikuti. Ms Gilbert benar-benar menulis dengan ringan dan deskripsinya tentang pasta, pizza, dan ungkapan-ungkapan ekspresif dari bahasa Italia sangat jenaka. Figlio di mignotta!

2. Bagian kedua, India, adalah bagian yang agak membosankan justru karena di sinilah periode pencarian spiritualitas Elizabeth yang paling intens. Kebosanan dan frustrasi juga yang dialami si tokoh sentral, seiring godaan untuk menyerah yang paralel dengan keinginan besar saya untuk segera lompat ke bagian ketiga, Indonesia. Tapi bagian ini pula yang bisa membuat saya menangis, tepatnya saat Elizabeth berdiri di atap ashram dan menemukan dirinya memaafkan mantan suaminya dan dirinya sendiri.

3. Bagian ketiga, Indonesia, ternyata bukan favorit saya. Mungkin karena saya berharap terlalu banyak, mentang-mentang saya tinggal di lokasi yang menjadi simbol keseimbangan di novel EPL. Pertama, Ms. Gilbert terkesan terburu-buru, sehingga tokoh-tokoh yang mewarnai bagian ini menjadi kurang berkembang. Kedua, perspektif “kulit putih” Gilbert mau nggak mau sedikit melukai ke-the other-an saya. Tokoh Wayan, Yudhi, bahkan Ketut Liyer “dirasani” sedemikian rupa layaknya manusia-manusia negara dunia ketiga yang tidak setara dengan subjek pembicara.

4. Saya rasa sebagian orang akan resisten terhadap novel-novel bertema pencarian spiritual seperti EPL. Hanya mereka yang meimiliki pengalaman serupa yang akan mengamini, yang lain mungkin akan berhenti membaca tepat di halaman di mana tokoh Elizabeth mulai berdoa di lantai kamar mandi.
Seindah-indahnya pengalaman spiritual seseorang, keindahan itu belum tentu indah pula bagi orang lain. (Di sini saya membayangkan reaksi sahabat saya, Daniel yang agnostik itu, bila saya paksa membaca EPL. Seumur hidupnya dia tidak akan lagi sudi bicara sama saya!)

5. Ms. Gilbert tetaplah seorang elitis dalam pencarian spiritualnya. Tidak semua orang yang seterpuruk itu bisa beruntung menemukan Guru dari India, lalu bisa membiayai dirinya untuk melakukan perjalanan spiritual yang punya rute: Italia, India dan bersekolah di ashram sang Guru yang elit itu, dan terakhir, Bali! Agak sulit membayangkan Elizabeth Gilbert sebagai orang yang merana saat itu. Hehe..

Kesimpulannya, Eat Pray Love lumayan lah untuk refleksi, tapi bukanlah novel favorit saya. Jauhlah bila dibandingkan tulisan-tulisan memoir Plath. Tapi saya ingin sekali nonton filmnya karena ada Julia Roberts, Javier Bardem, Billy Crudup, dan salah satu lokasinya di… Bali!

Under the Tree: not so refreshing!

Under The Tree by Garin NUgroho
Under The Tree by Garin NUgroho
Hari Sabtu kemarin saya beruntung dapat undangan nonton gratis premiere film Di Bawah Pohon atau Under the Tree arahan Garin Nugroho. Garin dan sebagian besar cast utama menghadiri acara tersebut – Dwi Sasono, Ayu Laksmi, Ikranegara, tentu saja minus Marcella Zalianty yang sedang terbelit kasus itu.

Sebelum itu, saya sudah diwanti-wanti seorang teman yang terlibat pembuatan film tersebut, bahwa UT bertempo lambat (atau dalam bahasa awam: membosankan). Tapi siapa yang tak kenal signature Garin yang satu itu? Dia bisa menampilkan satu gambar orang menyapu halaman yang luas selama bermenit-menit. Mungkin saking luasnya halamannya ya? Dan betul saja, di UT ada adegan nyapu latar lagi yang lumayan lama. Dalam adegan itu memang terbangun suasana yang ingin digarisbawahi. Emosi-emosi yang tidak terwakili kata-kata. UT ingin menyuarakan emosi-emosi tertahan tentang hubungan anak dan ibu yang tidak pernah sesederhana apa yang digariskan norma dan nilai moralitas. Ketika seorang ibu melakukan hal yang secara normatif layak dikutuk, sementara sang anak, diatur oleh norma yang sama, dilarang mengutuki ibunya sendiri – di situlah lahir konflik tak berkesudahan.

Tapi. Penonton yang sudah tahu emosi dan suasana itu lama-lama bisa merasa risih juga, jika disuguhi hal yang sama berulang kali dan dalam durasi yang lamanya hampir tak tertahankan. Banyak komentar yang saya dengar, seperti “Alright, I got the message, why do you keep telling me the same thing?” Seperti anak sekolah yang sudah mengerti cara kerja satu rumus, tapi terus-menerus disuruh mengerjakan soal serupa. Anak yang cerdas, mungkin akan jalan-jalan mengganggu temannya, anak yang biasa-biasa akan gelisah, sedang anak yang ‘lemah’ akan tertidur.

Dari segi permainan, Ikranegara masih tetap konsisten. Ayu Laksmi tampil memikat dengan akting naturalnya. Cuma sayangnya, banyak adegannya yang bernada sama dan cenderung berlama-lama. Marcella Zalianty tidak mampu mengembangkan karakternya dengan pola-pola ekspresi wajah dan nada bicara yang statis. Tapi nada tersumbang ada pada Nadia Saphira yang tampil amatir dengan akting kolokan kodian yang kontras dengan dialog berbunga yang seperti tidak “sejiwa” dengan image karakternya.

Mungkin Garin perlu memikirkan metode lain yang lebih melibatkan partisipasi penonton. Tidak bisa tidak, penonton harus diperhitungkan dalam pembuatan sebuah karya. Maksud saya, setiap sineas punya pilihan juga signature yang ingin ia torehkan di dalam karyanya. Saya sendiri termasuk penggemar film-film bertempo relatif lambatnya Anthony Minghella atau film-film Inggris pada umumnya, tapi saya ternyata kurang sabar dengan film Garin yang satu ini. Menurut saya Garin mem-push penontonnya terlalu jauh melebihi batas toleransi, nyaris tanpa jeda. Atau siapakah sebenarnya penonton Garin? Mungkin dia memang sudah tahu kelompok penonton tertentu yang bisa menikmati karyanya dengan lega dan tanpa gerutu.

How to treat your enemy

Semalam saya akhirnya nonton juga film Letters from Iwo Jima – karya the amazing Clint Eastwood itu. Mengenai alasan kenapa saya baru menyaksikan film itu, mungkin terkait dengan sentimen negatif saya mengenai film-film perang. Bukan karena alasan saya suka damai dan sebangsanya, tapi lebih karena takut melihat begitu banyak manusia yang mati dalam bentuk yang sungguh tidak layak, selain juga karena warna-warna dan tekstur dominan dari film-film perang yang hijau kotor, coklat lumpur, suram dengan aksentuasi merah-oranye darah, dan latar belakang dentuman granat, rentetan bunyi senapan mesin, dan bunyi senapan-senapan dikokang. Mekanis dan membuat depresi dengan cara yang berbeda dari film-film suspens thriller yang sama-sama mengumbar darah dan kekerasan.

Kembali ke Iwo Jima (yang dvd-nya saya dapat seharga Rp 1.000,- dari lelangan barang-barang lama kantor saya), sebenarnya saya sudah bisa menduga bakalan disuguhi ‘moral of the story’ absurditas perang dengan sentuhan-sentuhan humanis yang menjadi ‘signature’ kedalaman seorang Clint Eastwood. Bukankah banyak dari kita adalah perajurit keroco Saigo? Sementara Jenderal yang diperankan Ken Watanabe yang karismatik itu hanyalah gagasan utopis tentang konsep diri kita?

How to treat your enemy? Tokoh Nishi yang romantik memilih untuk merawat prajurit Amerika yang terluka, sementara dia sendiri tak kebagian morfin saat matanya terkena pecahan mortir. Si prajurit Amerika mati, Nishi pun mati. Jejak humanismenya bersumber dari sepucuk surat dari ibu si prajurit yang dibacakan Nishi di hadapan para prajurit Jepang sebelum kematiannya. Surat yang bercerita tentang anjing keluarga Amerika ini yang mengganggu ayam-ayam tetangga. Musuh juga manusia. Saigo memproses itu dari dalam dunia kecilnya.

Musuh. Ternyata saya tidak bisa berkata bahwa saya tidak punya musuh. Musuh-musuh kita mungkin tidak setegas itu maknannya seperti di medan perang. Seperti dalam satu adegan flashback si Jendral Jepang, “musuh-musuh” kita duduk semeja, makan siang bersama kita dan saling bercerita sambil tertawa-tawa. “Musuh-musuh” ada dalam wujud friksi-friksi gagasan, cara berpikir, perbedaan pengalaman hidup dan cara bersikap. Bila salah mengambil tindakan dan tergelincir, mungkin sama efeknya dengan menginjak ranjau: jangan tanya bentuk lagi, pasti jauh dari indah.

Mr. Todd, finale

There are things that stick in your mind even when you hate them. Especially when you hate them. But I didn’t hate Tim Burton’s Sweeney Todd, I just found it gory. I watched it in a friend’s place in Jakarta two days ago (yeah right! A smartass as I am, I wrote a 16-page essay on Todd, which I split into 5 posts in this blog, without having watched it before). Apart from my salute to Johnny Depp and Helena Bonham Carter, there’s too much blood gushing and O Boy, Mr. T slits too many throats! It is worth watching, but to me it’s not worth collecting (I can’t let my daughter watch it for anything, that’s for sure). Or is it not, really?

I got back from Jakarta this morning and found myself humming the tune of Johanna – a song from the musicals – over and over. I cannot stop thinking about the movie and the story. After all, Burton is a consistent director: his movies have ‘that’ feel, like a heavy stone is accidentally left inside you. Sweeney Todd is pure tragedy. You don’t know what to feel about the hero/villain, you don’t know how to feel about his predicaments, and you don’t know how you feel about hope reluctantly offered at the end of the movie.


You don’t know if anything as fatal as killing your loved ones, literally and figuratively speaking, or even killing your capacity to love, could be strictly limited to fictions

The world according to…

Fenomena menarik terjadi di panggung Academy Awards tahun ini. Bila tahun lalu Inarritu dan Cuaron semakin lantang menorehkan prestasi, tahun ini dunia keaktoran dikuasai para aktor non-Amerika. Tengok saja para peraih piala Oscar-nya: Marion Cotillard (Perancis), Daniel Day-Lewis (Inggris), Tilda Swinton (Inggris), dan Javier Bardem (Spanyol). Ini sejalan dengan jenis film-film yang diunggulkan, yang jelas-jelas bukan tipikal film mainstream box office dan bakalan diputar di bioskop 21.

Teori bodoh saya: segala sesuatu yang formulaik sudah habis masanya. Dan dunia hiburan Amerika Serikat selalu dekat dengan sistem formula. Waktu saya sekolah di Jurusan Teater dan Film di Kansas, AS, saya bisa simpulkan bahwa rekan-rekan satu departemen saya masuk program teater karena kepingin jadi bintang film atau sangat Broadway-oriented. Pendeknya: masuk dunia industri yang tentunya berorientasi pasar itu. Hasilnya agak gampang ditebak: panggung audisi di kampus dipenuhi para aktor amatir dengan akting standar, yang sebagus-bagusnya, terkesan baku dan monoton.


Sewaktu memilih aktor untuk peran Dicky di film The Talented Mr. Ripley, Anthony Minghella mengatakan bahwa ia tidak menemukan satu aktor Amerika-pun yang punya daya tarik fisik sekaligus kharisma “from out there” yang dibutuhkan untuk tokoh Dicky, seorang pemuda Amerika. “Mereka terlalu populis,” ujar Minghella. Maka dipilihnya Jude Law, seorang aktor Inggris. Saya sepakat (hihihi… emang saya siapa ya?) Karena menurut saya, secara umum aktor Amerika itu terlalu jaim, atau kalau tidak jaim, ya terlalu sibuk dengan ke-celeb-annya. Nah, kalau sudah begitu, aktingnya mentok begitu-begitu saja. Kalau ada olimpiade akting internasional, mereka pasti ngos-ngosan bila dilawankan aktor-aktor sekelas David Thewlis, Brenda Blethyn, Timothy Spall, atau bahkan si seksi Gael Garcia-Bernal.


Tapi Amerika masih punya aktor-aktor dengan akting “nggilani” kok. Ini komplimen buat nama-nama semisal seperti Philip Seymour Hoffman, Frances McDormand dan Meryl Streep. Salut!

Masculinity: this bad boy isn’t bad at all

Marnie didn’t understand why I dig Russell Crowe. Will it hurt so much to say that he is the epitome of sexy masculinity – all with its roughness, that glare in the eyes, and those sneers in the face of danger? It’s a rewarding adventure to be able to detect hints of vulnerability in that macho figure. Watch a 2007 remake 3: 10 to Yuma and Mr. Crowe will show it to you – what it takes to be a bad boy. Him and Christian Bale are impressive actors, and the movie itself is a decent western one – so it’s a pretty good deal (and don’t worry, it’s a pretty much conservative western movie – far from being brokeback-mountany, if that concerns you). 4 stars out of 5 from me!

P. S. There’s something about Brit and Aussie actors that American actors miss. I’ll get back to this next time.