“The ornament of a house is the friends who frequent it.”
― Ralph Waldo Emerson

MENIUPKAN ENERGI BAIK  – OBJEK-OBJEK NON-MANUSIA

Konsep ‘home’ dan bukan ‘house’ itu abstrak. Kita hanya bisa merasakan energinya yang tak kasat mata. Dalam ungkapan Jawa, marai krasan atau bikin kerasan, adalah efek yang timbul dari suasana rumah yang membuat penghuni dan tamu merasa nyaman, ‘adem’, dan ingin berlama-lama berada di dalamnya. Bahkan di Jawa ada guyonan lama mengenai rumah yang ‘marai krasan’. Tamu dikatakan betul-betul kerasan kalau sudah buang air besar di rumah orang itu. Artinya, bahkan orang lain pun merasa ngomah, merasa seakan berada di rumahnya sendiri.

Sebenarnya energi sebuah rumah itu mengikuti kepribadian dan energi pemiliknya. Kalau pemiliknya tertutup, secara fisik rumahnya pun akan memiliki fitur-fitur yang selaras dengan sifat itu. Begitu juga, pemilik rumah yang tidak pedulian, apa yang dimunculkan di lingkup rumahnya juga pasti sedikit banyak mencerminkan hal tersebut. Seorang tamu akan merasa kerasan berada di sebuah rumah apabila energi rumah dan tuan rumahnya selaras dengan energinya. Karena saya ingin memaksimalkan energi baik di rumah saya, saya juga ingin rumah saya mengundang orang-orang dan benda-benda dengan energi baik.

Di postingan sebelumnya, saya mengatakan bahwa bagian depan rumah saya harus memberi pesan keramahan dan keterbukaan. Saya mau sebagian halaman saya terbuka menghadap langit dan ditanami tumbuh-tumbuhan yang bagi saya mempunyai sifat baik, ramah, dan ceria. Untuk interior, saya menabung untuk bisa membeli perabotan dari kayu. Saya mengusahakan seminim mungkin bahan plastik, karena plastik terlalu impersonal dan instan. Sementara itu, kayu datang dari alam (kebetulan elemen saya berdasar shio adalah kayu. mmm… njur ngopo yo? 😁) Kayu bisa dicustom-made sesuai selera dan kondisi ruangan. Fungsi dan estetika bisa seselaras yang kita inginkan. Kebetulan di Yogyakarta ada cukup banyak pengrajin mebel, dan sebisa mungkin saya akan mendukung usaha lokal dengan memesan perabotan dari mereka dan bukan dari home deco franchise besar. Ini salah satu langkah menyatu dengan alam setempat dan lingkungan sosial, menurut hemat saya (yang memang harus berhemat).

Urusan styling interior rumah sesungguhnya merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan, terutama kalau budget kita memungkinkan. Pemilihan dekorasi dan warna saya sesuaikan dengan model rumah, besar-kecil ruangan kosong di dalam ruang, dan mood yang ingin kita ciptakan untuk diri sendiri dan tamu-tamu kita. Secara pribadi saya suka warna biru, turquoise, dan warna-warna pastel lain. Warna merah saya gunakan hanya sebagai aksen dan efek dinamis.

Saya suka ruang-ruang berkumpul yang terbuka, di mana obrolan asyik dan ide-ide kreatif mungkin terlahir. Di dalam rumah saya sudah ada meja makan, ruang tamu (yang masih kosong), dan pojok kerja (berupa meja kerja lucu). Di halaman depan dan pekarangan belakang masih memungkinkan untuk diciptakan ruang-ruang berkumpul lainnya kelak. Nyicil mimpi dulu, boleh kan? 😄

MENIUPKAN ENERGI BAIK – MANUSIA

Setelah ada rumah, salah satu hal pertama yang bisa kita lakukan adalah mendoakan rumah itu. Tujuannya jelas: untuk membersihkan ruang-ruang yang ada dari kemungkinan energi-energi negatif dan mengundang aura kebaikan dan perlindungan bagi rumah dan penghuninya. Dalam waktu satu mingguan, saya mengorganisir kegiatan doa bersama di rumah saya. Bayangkan, saya ada di Bali sementara rumah ada di Jogja. Semua harus sudah siap sebelum saya terbang pulang, jadi lumayan kalang kabut waktu itu. Tapi mungkin benar kata orang. Niat baik akan didukung oleh orang-orang baik pula. Bantuan dari keluarga dan sahabat-sahabat berdatangan sebelum dan saat Hari H. Ada yang membantu mencarikan frater, ada yang membantu dengan kehadiran mereka, ada yang mengirimkan bingkisan makanan, ada yang membawa bingkisan tanaman dan hiasan rumah, dan terlebih lagi, banyak yang mengirimkan doa. Luar biasa!

Satu hal yang sungguh bermakna dari acara pemberkatan rumah saya adalah suasana ceria dan penuh tawa dari semua yang hadir. Suasana doa yang  khidmat sesekali diselingi kelucuan-kelucuan  tak terduga yang menimbulkan gelak tawa. Buat saya yang tidak terlalu suka formalitas, semua itu adalah berkah yang tiada taranya. Momen itu juga menjadi ajang ‘nambah sedulur’ atau nambah saudara bagi kami yang berkenalan dengan beberapa orang baru. Walaupun ibadat dibawakan menurut agama yang saya anut, yang hadir ada yang berbeda agamanya. Semuanya hadir untuk satu tujuan: meniupkan spirit baik di rumah saya. Seperti itulah energi yang musti mengisi rumah saya: ketulusan dan kebahagiaan. Semesta bersama mereka yang bahagia. Semoga!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s