“The fairies, as their custom, clapped their hands with delight over their cleverness, and they were so madly in love with the little house that they could not bear to think they had finished it.” 
― J.M. BarriePeter Pan in Kensington Gardens

Bagian ini tidak bisa dipisahkan dari postingan sebelumnya mengenai ‘Rumah Mereka’ vs. ‘Rumah Kita’. Kalau Rumah Kita bag. 3 belum dibaca, mohon segera ke tkp ya… 😉

KAMAR MANDI

Di ‘rumah mereka’ kamar mandi merupakan ruangan yang sangat krusial. Sewaktu saya numpang di rumah mantan supervisor saya di Honolulu, Hawai’i, keluarganya memiliki master bathroom yang hanya bisa diakses dari kamar utama mereka, dan kamar mandi kedua yang bisa saya pakai secara bergantian dengan putri mereka. Kamar mandi utama atau master bathroom ini biasanya memiliki bathtub, shower, toilet dan vanity; sementara kamar mandi kedua memiliki semuanya kecuali bathtub. Di kamar mandi mereka, air mandi ‘diarahkan’ untuk mengalir hanya di lobang pembuangan. Dinding kaca atau tirai plastik dipasang untuk menghindarkan air memercik ke lantai kamar mandi. Kamar mandi mereka relatif luas, well organized, berdekorasi dan berkelengkapan baik, serta kering. Banyak rumah yang memiliki fitur half bathroom atau powder room yang bisa dipergunakan tamu (yang mungkin hanya perlu numpang buang air dan cuci tangan, tidak mandi). Master bathroom hanya diperuntukkan tuan dan nyonya rumah. Arti tersiratnya: urusan pribadi tidak untuk dibagikan ke orang-orang lain. Privasi.

Sementara itu, di kamar mandi kita, terkadang satu kamar mandi digunakan oleh semua orang, tidak peduli itu tuan rumah, anak-anak, maupun tamu. Tamu bisa melihat sikat gigi dan pasta gigi merk apa yang dipakai tuan rumah, bahkan mungkin jenis pisau cukur dan pembalut kewanitaan si penghuni. Artinya: privasi bukan hal utama. Hal -hal paling pribadi pun bisa menjadi urusan orang-orang di luar keluarga inti yang menghuni rumah. Ini tidak mengejutkan mengingat sifat sosial masyarakat kita yang sangat tinggi dibandingkan masyarakat Amerika, misalnya. Apalah artinya urusan berbagi tempat mandi dan buang air? Dulu kakek-kakek kita mandi di sungai beramai-ramai dengan teman-teman sebaya. Bahkan mandi pun urusan sosial. Saat ada kematian warga di lingkungan kita, lagi-lagi memandikan jenazah adalah perkara sosial. Bandingkan dengan lingkungan yang menggarisbawahi privasi. Urusan memandikan jenazah adalah urusan profesional rumah kematian.

Jadi, jangan sedih kalau kamar mandimu cuma satu-satunya di rumahmu. Itu karena kita, masyarakat Indonesia, sangat sosial! 😂😁

Catatan Pribadi mengenai Pagar & Taman Depan Rumah

Beberapa saat lalu, Mas Developer Perumahan saya mengirimkan foto bagian depan rumah saya via WA karena kondisinya saya berada di Bali. Saya kaget sudah ada pagar berupa palang-palang lebar melintang horizontal dan tersusun rapat. Bagus sebenarnya, tapi tidak sesuai dengan visi saya mengenai pagar rumah saya. Saya minta pagar diganti pagar besi vertikal yang lebih langsing, tidak rapat susunannya, dan sederhana. Kenapa? Karena saya ingin rumah saya terlihat welcoming, jadi saya ingin taman saya nantinya bisa jelas terlihat dari luar. Saya tidak mau pagar yang dominan karena efek yang ditimbulkan adalah individualis dan tertutup. Saya mau kalau tetangga lewat dan saya kebetulan ada di teras, kami bisa saling melempar sapaan.

Taman saya saat ini sudah ditanami rumput, pohon jepun (kamboja Bali yang bunganya lebih kecil dibanding kamboja pekuburan 😁), pokok kembang sepatu dan bunga asoka. Seorang rekan yang berprofesi housekeeper dan berpengalaman dalam landscaping hotel menyarankan saya untuk menanam bunga berwarna merah di depan rumah. Dia menganjurkan bunga sepatu atau hibiscus karena termasuk bunga iklim tropis yang tahan panas dan berbunga sepanjang tahun. Kenapa merah? Katanya warna merah bagus untuk mengundang rejeki. Ya sudah, saya nurut, toh tidak ada ruginya. Bunga jepun (plumeria) saya pilih karena aroma tropikalnya yang menenangkan. Rasanya sangat menyenangkan saat membuka pintu rumah di pagi hari dan disambut semerbak wangi frangipani/jepun/plumeria yang ramah ini. Bunga ini mewakili kehidupan di Bali yang saat ini masih saya jalani. Sementara, rumpun asoka atau soka, hadir tidak terduga dari seorang sahabat yang menghadiri acara pemberkatan rumah saya minggu lalu. Bunga soka membawa kenangan masa kecil saya: mengisap nektar dari batang bunganya. Baik dan manis ya, bunga ini! 😄😊

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s