Kabar Angin di Sebuah Kafe

Konon katanya,
Hatiku memilihmu kerna rapuhmu
Kerna lirih liku jalanmu yang keliru
Terbuyar lamunku, ragumu,
Jadi laguku

Terbetik kabar,
Tiada hak kepemilikan hati
Yang menyanyi rona sara sendiri
Mau itu pun hanya tubuh mati
Yang hantunya meniti
Seolah ada

Ini pernyataannya:
Ketika jari menyentuh bilik jantungmu
Ia juga mengarang fabel lain
Agar matamu terbawa letih mengejar
Lalu terbang terenggut angin
Ayah sejatimu

Ini pertanyaannya:
Jika ketakhirauan lahir dari hirau,
Mengapa jiwaku kelu meragu?
Atau mungkin ini baru setengah jalan
Pasti berujung, pasrah terhenti
Lalu mati?

“Pasti begitu kan?” Tanya yang satu

Di luar masih gerimis, kopi sudah habis

“Kau ini. Tahu tapi pura-pura amnesia sinetronis!”

Yang satu lagi bergerak kepingin pipis