Eat Pray Love… a white woman’s perspective as seen by a cappucino brown woman


Finally, I managed to have a copy of this novel! Setelah rekomendasi dari seorang kerabat yang mengatakan bahwa saya harus membaca memoir Elizabeth Gilbert lebih dari setahun yang lalu. Terus terang ada rasa enggan untuk membaca sesuatu yang “saya rasa saya tahu maknanya,” just because saya sedikit banyak mengalami apa yang dialami oleh Ms. Gilbert. Saya akhirnya membeli novel ini di Gramedia minggu lalu karena (1) ada edisi Penguin yang harganya jauh lebih murah dengan sampul Julia Roberts yang sedang duduk di bangku sambil makan frozen yoghurt; (2) ego sok elitis saya nggak membolehkan saya menonton filmnya kelak tanpa membaca sumbernya terlebih dahulu; dan (3) Bali menjadi salah satu unsur terpenting dari kisah itu, dan saya tinggal di Bali pula, maka saya harus membacanya demi untuk bisa mendiskusikannya dengan objektif dengan siapa saja kelak (ambisius sekaleee!). Dan ini sedikit saja catatan pribadi saya mengenai novel 400-an halaman itu:

1. Bagian pertama, Italy, adalah bagian yang paling menyenangkan untuk diikuti. Ms Gilbert benar-benar menulis dengan ringan dan deskripsinya tentang pasta, pizza, dan ungkapan-ungkapan ekspresif dari bahasa Italia sangat jenaka. Figlio di mignotta!

2. Bagian kedua, India, adalah bagian yang agak membosankan justru karena di sinilah periode pencarian spiritualitas Elizabeth yang paling intens. Kebosanan dan frustrasi juga yang dialami si tokoh sentral, seiring godaan untuk menyerah yang paralel dengan keinginan besar saya untuk segera lompat ke bagian ketiga, Indonesia. Tapi bagian ini pula yang bisa membuat saya menangis, tepatnya saat Elizabeth berdiri di atap ashram dan menemukan dirinya memaafkan mantan suaminya dan dirinya sendiri.

3. Bagian ketiga, Indonesia, ternyata bukan favorit saya. Mungkin karena saya berharap terlalu banyak, mentang-mentang saya tinggal di lokasi yang menjadi simbol keseimbangan di novel EPL. Pertama, Ms. Gilbert terkesan terburu-buru, sehingga tokoh-tokoh yang mewarnai bagian ini menjadi kurang berkembang. Kedua, perspektif “kulit putih” Gilbert mau nggak mau sedikit melukai ke-the other-an saya. Tokoh Wayan, Yudhi, bahkan Ketut Liyer “dirasani” sedemikian rupa layaknya manusia-manusia negara dunia ketiga yang tidak setara dengan subjek pembicara.

4. Saya rasa sebagian orang akan resisten terhadap novel-novel bertema pencarian spiritual seperti EPL. Hanya mereka yang meimiliki pengalaman serupa yang akan mengamini, yang lain mungkin akan berhenti membaca tepat di halaman di mana tokoh Elizabeth mulai berdoa di lantai kamar mandi.
Seindah-indahnya pengalaman spiritual seseorang, keindahan itu belum tentu indah pula bagi orang lain. (Di sini saya membayangkan reaksi sahabat saya, Daniel yang agnostik itu, bila saya paksa membaca EPL. Seumur hidupnya dia tidak akan lagi sudi bicara sama saya!)

5. Ms. Gilbert tetaplah seorang elitis dalam pencarian spiritualnya. Tidak semua orang yang seterpuruk itu bisa beruntung menemukan Guru dari India, lalu bisa membiayai dirinya untuk melakukan perjalanan spiritual yang punya rute: Italia, India dan bersekolah di ashram sang Guru yang elit itu, dan terakhir, Bali! Agak sulit membayangkan Elizabeth Gilbert sebagai orang yang merana saat itu. Hehe..

Kesimpulannya, Eat Pray Love lumayan lah untuk refleksi, tapi bukanlah novel favorit saya. Jauhlah bila dibandingkan tulisan-tulisan memoir Plath. Tapi saya ingin sekali nonton filmnya karena ada Julia Roberts, Javier Bardem, Billy Crudup, dan salah satu lokasinya di… Bali!

Advertisements

2 thoughts on “Eat Pray Love… a white woman’s perspective as seen by a cappucino brown woman

  1. Aku beli buku terbitan Penguinnya setelah baca tulisan mbak Na ttg Eat Pray Love. Belum kelar bacanya sih, tapi aku setuju kalo ga semua orang yg terpuruk beruntung menemukan apa yang ditemukan Liz. Terutama bisa menghabiskan satu tahun hidupnya di tiga negara yang berbeda. :p Masih tertarik nonton filmnya mbak?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s