Pay it forward (bukan judul film)

Pagi ini saya membuka-buka album foto teman saya di Facebook. Lokasi: Lawrence, Kansas, AS. Tentu saja membangkitkan perasaan yang bercampur-aduk. Wajah-wajah lama yang dulu selalu tertawa dan menghabiskan malam-malam, sore-sore, pagi-pagi bersama… di downtown Lawrence, di perpustakaan, di Henry’s, dirumah Susy…. Tetapi ada pula wajah-wajah yang tidak saya kenal yang membuat saya sedikit merasa cemburu. Ah… andai saya juga berada di sana.

Mas Takaaki ada di antara wajah-wajah itu. Laki-laki Jepang yang pernah tinggal di Indonesia lebih sepuluh tahun yang lalu. Bukan apa, tapi ada kenangan tersendiri mengenai orang ini. Dialah orangnya yang mengantarkan kepergian saya untuk pulang kembali ke Indonesia setelah 2 tahun studi saya di AS selesai.

Butuh waktu 2 jam untuk menempuh jarak dari kota Lawrence menuju bandara di Kansas City. Setengah perjalanan saya tertidur karena kelelahan menangis. Biasalah, efek perpisahan dengan teman-teman baik… those beautiful souls… yang mungkin untuk selamanya. Saya terbangun karena mendengar Mas Takaaki berulang-ulang mengeluh sendiri, “Arrgggh!! Arrgghh!!!”

“Ada apa?” tanya saya.
“Bensinnya hampir habis!”
Deg! Bukan apa, gas station di sana tidak bertebaran di setiap sudut seperti di sini. Saya melirik jam, 2 setengah jam sebelum keberangkatan.

Tiba-tiba Mas Takaaki ambil belokan ke kanan. Padahal bandaranya jalan lurus.

“Hey, mau kemana nih?” Tanya saya agak panik.
“Nggg… Siapa tahu ada pompa bensin di sekitar sini,” jawab Mas Tak nggak kalah panik.

Siapa tahu? Of course. But, dude, we’re in the middle of nowhere! Sepanjang mata memandang cuma ada hamparan tanah lapang berumput hijau. Sesekali terlihat sapi-sapi pada merumput, dan jarang sekali terlihat ada bangunan rumah maupun manusia. Ya ampuuun… Mana ada pompa bensin di tempat seperti ini, nenek? Rasanya sudah kepingin nangis. Kebayang kalau mobil mogok di tengah jalan dan pesawat pulang ke tanah air nggak terkejar? Masa mau naik sapi? Baik saya dan Mas Takaaki cuma bisa kelu.

Tiba-tiba di kanan jalan ada satu rumah tua. Ahhh, harapan! Paling tidak kami bisa mendapat informasi di mana ada pompa bensin terdekat. Mas Tak menghentikan mobil. Kami berjalan memasuki halaman. Ada perahu mesin diparkir di depan pintu. Sepasang oma-opa duduk di beranda rumah yang segera menyambut kami dengan keramahtamahan khas midwesterner. Mereka adalah sepasang malaikat yang Tuhan kirim untuk saya siang itu.

Tidak ada pompa bensin yang cukup dekat untuk bisa kami tempuh. Kami tidak membutuhkan pompa bensin lagi. Pasangan tua yang baik hati itu memberikan bensin yang masih tersisa di dalam tangki perahunya untuk kami, cukup untuk melanjutkan perjalanan ke bandara.

“Berapa yang harus kami bayar untuk semua ini?” tanya saya.
“No need to pay us anything. Just helping another person in need will do,” jawab si Oma.

Singkat cerita, Mas Takaaki berhasil mengantarkan saya menuju pintu gerbang kepulangan saya. Saya peluk dia dengan rasa haru. Dia kelu dan dengan gerakan kaku membalas pelukan saya. Domo arigato, matur nuwun sanget njih, Mas!

Sampai hari ini saya masih menyimpan janji saya kepada sepasang malaikat dari Kansas itu. Pay it forward.

This is for all beautiful souls I’ve met in my life’s journey thus far.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s