Hey, love!

Sudah kurang lebih setahun sejak postingan saya yang terakhir. Selama itu sudah ritme dan corak kehidupan saya berubah. Saya bukan lagi si kutu laptop yang siang-malam mantengin monitor Jeffrey, macbook saya yang sekarang sudah hidup segan, mati tak mau. Bukan. Ini bukanlah bad news bagi saya. Lebih dari setengah tahun pekerjaan saya yang sekarang sebagai guest relations di sebuah hotel berbintang tidak mengharuskan saya mengintimi laptop. Di tempat kerja, saya lebih banyak menghadapi manusia-manusia nyata dengan aneka ragam kebutuhan mereka, dan bukan urusan researching dan resourcing. Buka email saja kadang tidak sempat. Blackberry pun menjadi lebih relevan bagi saya dibandingkan komputer jinjing. Itu terjadi secara alami.

Jadi apa yang menyebabkan saya menulis lagi? Adalah Blackberry Messenger dan seorang sahabat lama, Lani Setyadi, yang secara “efek bola sodok” membangkitkan insting ngecap di tulisan yang mati suri itu. Maklum, sudah lebih 10 tahun kami nggak ketemu, jadi ingatan Lani tentang saya masihlah saya yang penulis-wannabe, penyair amatir (aka pembual romantis), yang lumayan kreatif tapi malu-malu itu. Saya katakan padanya, bahwa saya sudah memilih “hidup normal”, jadi manusia biasa yang praktis. Kebetulan saya barusan nonton “The Hours”, film yang sukses membawa Nicole Kidman menjadi aktris terbaik Oscar karena perannya sebagai Virginia Woolf. Yah, Mrs. Woolf, seperti juga Sylvia Plath, adalah jiwa-jiwa kreatif yang sakit dan gelisah. Sepersekian persen dari yang mereka miliki pernah saya alami juga. It was just unbearably painful! Jadi, seperti kata Woolf, “The poet has to die.” Saya juga membunuh kecenderungan itu dalam diri saya demi ketenangan dan keseimbangan.

Mati kah? Not entirely, rupanya. Terbukti saya kembali ke blog lama saya ini, mengutak-atik password saya belasan kali karena saya sudah lupa, mendownload aplikasi WordPress for BB, dan yah, saya menulis lagi. Bedanya saya dengan Plath, Woolf, dan the old version of my art, adalah bahwa saya tidak sehebat mereka (thank God!), dan saya berhasil melewati nadir saya, sementara mereka memilih untuk abadi di dalam kesakitan/keindahan mereka yang absolut.

Anyways, thanks ya, Cik Lan, for reminding me not to shut down this talent altogether. Saya masih menulis. Kalau ada waktu saya yang tersisa. 😉

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s