Profiling Ancaman Bom

Hari ini untuk kedua kalinya hotel kami mengundang Bapak Kom. Pol. Suharli dari Densus 88 Polda Bali, untuk memberikan training tentang antisipasi ancaman bom kepada staf hotel. Beliau membawa seorang asisten yang berperawakan tinggi besar, berjaket hitam, dan wajahnya kusam dengan jenggot kambing jarang-jarang. Kalau “law of attraction” juga berlaku di sini, inilah kasus di mana sulit untuk membedakan mana si pemburu dan mana yang diburu, karena keduanya sama-sama berhawa “surem.” Kenapa Pak Suharli membawa asisten? Ternyata selain untuk membantunya dalam teknis presentasi, pak asisten juga bertugas menjadi dokumentator acara tersebut. Selain menyimpan catatan nama-nama para peserta pelatihan itu, sesekali jepretan kamera diarahkan ke muka -muka kami. Tujuannya utamanya bukan untuk kenang-kenangan, apalagi di-upload di FB seperti kebiasaan sebagian dari kita (‘kita’??? gue kaleee…). Dengan kelugasannya yang mematikan, Pak Suharli mengatakan, “Apabila hotel ini dibom, kami akan melihat kembali foto-foto training ini, siapa tahu pelakunya salah seorang dari Anda.” Betul juga, bukankah Ibrohim juga seorang florist di salah satu hotel itu? Hahaha… Kami ketawa dengan pahit, sambil lirik sana-sini, mencari muka-muka mencurigakan, sekaligus mengernyit kecut “weits, jangan-jangan mereka juga mencurigai saya ya?”

Pak Suharli memberikan ilustrasi. Silahkan posisikan diri Anda sebagai seorang operator sebuah kantor, dan Anda menerima telepon dari seorang pria sebagai berikut:

“Selamat pagi, Mbak, benar ini Hotel X? [dijawab] Begini, nanti sekitar jam dua siang saya akan memasang bom di hotel Mbak.”

Kira-kira apa dan bagaimana reaksi Anda?

Pak Suharli menganjurkan untuk melakukan profiling. Tentu saja ini perlu kecermatan dan ketenangan. Anda harus meneliti unsur-unsur Paralinguistik (bagi Anda yang suka linguistik) atau ‘subtext’ (bagi Anda yang suka drama) dan tekstur-tekstur nonverbal dari si peneror yang ramah tamah itu, sebelum Anda panik dan berteriak “Ada BOM!” atau malah ngompol di tempat. Misalnya, 1. mau neror tapi ramah banget, pakai salam sejahtera pula (subtext: masih punya sopan santun dan rasa sungkan); 2. “Benar ini hotel X?” (yeee… teroris sejati apa bukan? Masa target sendiri masih diragukan?); 3. Jam 2 siang saya akan memasang bom (berarti belum kan, mas?) Selain itu masih menurut si Bapak yang mengakui dirinya mirip Crayon Shin-Can itu, kita perlu mengidentifikasi secara cepat, berapa kira-kira umur si penelepon, apakah nada suaranya tegas, ragu, tegang, atau tenang, selain juga mencermati suara latar yang menyertai (misalnya ada musik, bunyi klakson, dll).

Wah, seru juga ya. Mengingatkan saya akan teknik-teknik analisa karakter sewaktu saya mengambil kuliah Drama dulu.

Dua jam pelatihan hari itu pun selesai. Ternyata keseraman Pak Suharli dan asistennya sedikit luntur saat kami menjamu mereka minum kopi di ruangan saya. Iseng saya tanya apakah mereka ikut dalam pengepungan di Temanggung tempo hari, ternyata tidak (agak kecewa juga nih, Pak! hihihihi). Biarpun demikian, Pak Asisten yang ternyata murah senyum itu ikut dalam pengepungan sebelumnya yang terjadi di Malang yang menewaskan Dr. Azahari. Sewaktu akan pulang, kami pun berjabat tangan. “Ok lah, Mbak Maia, kami pulang dulu,” kata Pak Suka Hari Libur ini. Kok Maia?? Menurutnya, saya … ehem… mirip Maia Estianty. Ih… kaga nyambung nih. Biarin lah, yang penting, jaga kewaspadaan! MERDEKA!!!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s