Under the Tree: not so refreshing!

Under The Tree by Garin NUgroho
Under The Tree by Garin NUgroho
Hari Sabtu kemarin saya beruntung dapat undangan nonton gratis premiere film Di Bawah Pohon atau Under the Tree arahan Garin Nugroho. Garin dan sebagian besar cast utama menghadiri acara tersebut – Dwi Sasono, Ayu Laksmi, Ikranegara, tentu saja minus Marcella Zalianty yang sedang terbelit kasus itu.

Sebelum itu, saya sudah diwanti-wanti seorang teman yang terlibat pembuatan film tersebut, bahwa UT bertempo lambat (atau dalam bahasa awam: membosankan). Tapi siapa yang tak kenal signature Garin yang satu itu? Dia bisa menampilkan satu gambar orang menyapu halaman yang luas selama bermenit-menit. Mungkin saking luasnya halamannya ya? Dan betul saja, di UT ada adegan nyapu latar lagi yang lumayan lama. Dalam adegan itu memang terbangun suasana yang ingin digarisbawahi. Emosi-emosi yang tidak terwakili kata-kata. UT ingin menyuarakan emosi-emosi tertahan tentang hubungan anak dan ibu yang tidak pernah sesederhana apa yang digariskan norma dan nilai moralitas. Ketika seorang ibu melakukan hal yang secara normatif layak dikutuk, sementara sang anak, diatur oleh norma yang sama, dilarang mengutuki ibunya sendiri – di situlah lahir konflik tak berkesudahan.

Tapi. Penonton yang sudah tahu emosi dan suasana itu lama-lama bisa merasa risih juga, jika disuguhi hal yang sama berulang kali dan dalam durasi yang lamanya hampir tak tertahankan. Banyak komentar yang saya dengar, seperti “Alright, I got the message, why do you keep telling me the same thing?” Seperti anak sekolah yang sudah mengerti cara kerja satu rumus, tapi terus-menerus disuruh mengerjakan soal serupa. Anak yang cerdas, mungkin akan jalan-jalan mengganggu temannya, anak yang biasa-biasa akan gelisah, sedang anak yang ‘lemah’ akan tertidur.

Dari segi permainan, Ikranegara masih tetap konsisten. Ayu Laksmi tampil memikat dengan akting naturalnya. Cuma sayangnya, banyak adegannya yang bernada sama dan cenderung berlama-lama. Marcella Zalianty tidak mampu mengembangkan karakternya dengan pola-pola ekspresi wajah dan nada bicara yang statis. Tapi nada tersumbang ada pada Nadia Saphira yang tampil amatir dengan akting kolokan kodian yang kontras dengan dialog berbunga yang seperti tidak “sejiwa” dengan image karakternya.

Mungkin Garin perlu memikirkan metode lain yang lebih melibatkan partisipasi penonton. Tidak bisa tidak, penonton harus diperhitungkan dalam pembuatan sebuah karya. Maksud saya, setiap sineas punya pilihan juga signature yang ingin ia torehkan di dalam karyanya. Saya sendiri termasuk penggemar film-film bertempo relatif lambatnya Anthony Minghella atau film-film Inggris pada umumnya, tapi saya ternyata kurang sabar dengan film Garin yang satu ini. Menurut saya Garin mem-push penontonnya terlalu jauh melebihi batas toleransi, nyaris tanpa jeda. Atau siapakah sebenarnya penonton Garin? Mungkin dia memang sudah tahu kelompok penonton tertentu yang bisa menikmati karyanya dengan lega dan tanpa gerutu.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s