Your smile is genuine!

There are ways that married men do to make single women smile, not to mention at a work place. This guy is a colleague of mine and he just learned the word fake a couple of days ago. Then, by himself, he managed to find some words whose meanings opposite to that word.  This morning for some (decent) reason, he took my picture while I was working with my computer. He said he needed it because I will move to another company in less than 2 weeks. Then, he emailed the picture he just took to me.  I opened and there he wrote, under my picture, “Your smile is genuine!” Who doesn’t smile at this cheap, silly flirtation. That was perhaps the best he could do to us.

These married men. What they wished they could do, but couldn’t.  So why not have a little fun with these “unbroken rules.?” Why don’t you go out with me for a date? Hello, gorgeous. Oh, Monica… I dare not call you Agnes after my neighbor’s sickly dog.  You will be driven to madness if you feel sick of all of these shits they’re telling you.  It doesn’t hurt, really, to allow these poor fellows some fresh air. Who doesn’t like attention?

These tame, sweet, adorable married men. Trust me, they know their place. Like knowing you’re out of their league. Well, only one in 1oo cases they would try to break the rules by doing things you’d despise. I was stalked by one of my male colleagues once – and since then we haven’t talked to each other. That’s the penalty for wanting more than you could afford. The other married men and I can entertain each other by our mere presence and a huge dose of joy.

These married men make me smile. Can I borrow your computer since I can’t borrow you? And although I don’t have Julia Roberts’ firts-rate big smile, I smile, genuinely.

Under the Tree: not so refreshing!

Under The Tree by Garin NUgroho
Under The Tree by Garin NUgroho
Hari Sabtu kemarin saya beruntung dapat undangan nonton gratis premiere film Di Bawah Pohon atau Under the Tree arahan Garin Nugroho. Garin dan sebagian besar cast utama menghadiri acara tersebut – Dwi Sasono, Ayu Laksmi, Ikranegara, tentu saja minus Marcella Zalianty yang sedang terbelit kasus itu.

Sebelum itu, saya sudah diwanti-wanti seorang teman yang terlibat pembuatan film tersebut, bahwa UT bertempo lambat (atau dalam bahasa awam: membosankan). Tapi siapa yang tak kenal signature Garin yang satu itu? Dia bisa menampilkan satu gambar orang menyapu halaman yang luas selama bermenit-menit. Mungkin saking luasnya halamannya ya? Dan betul saja, di UT ada adegan nyapu latar lagi yang lumayan lama. Dalam adegan itu memang terbangun suasana yang ingin digarisbawahi. Emosi-emosi yang tidak terwakili kata-kata. UT ingin menyuarakan emosi-emosi tertahan tentang hubungan anak dan ibu yang tidak pernah sesederhana apa yang digariskan norma dan nilai moralitas. Ketika seorang ibu melakukan hal yang secara normatif layak dikutuk, sementara sang anak, diatur oleh norma yang sama, dilarang mengutuki ibunya sendiri – di situlah lahir konflik tak berkesudahan.

Tapi. Penonton yang sudah tahu emosi dan suasana itu lama-lama bisa merasa risih juga, jika disuguhi hal yang sama berulang kali dan dalam durasi yang lamanya hampir tak tertahankan. Banyak komentar yang saya dengar, seperti “Alright, I got the message, why do you keep telling me the same thing?” Seperti anak sekolah yang sudah mengerti cara kerja satu rumus, tapi terus-menerus disuruh mengerjakan soal serupa. Anak yang cerdas, mungkin akan jalan-jalan mengganggu temannya, anak yang biasa-biasa akan gelisah, sedang anak yang ‘lemah’ akan tertidur.

Dari segi permainan, Ikranegara masih tetap konsisten. Ayu Laksmi tampil memikat dengan akting naturalnya. Cuma sayangnya, banyak adegannya yang bernada sama dan cenderung berlama-lama. Marcella Zalianty tidak mampu mengembangkan karakternya dengan pola-pola ekspresi wajah dan nada bicara yang statis. Tapi nada tersumbang ada pada Nadia Saphira yang tampil amatir dengan akting kolokan kodian yang kontras dengan dialog berbunga yang seperti tidak “sejiwa” dengan image karakternya.

Mungkin Garin perlu memikirkan metode lain yang lebih melibatkan partisipasi penonton. Tidak bisa tidak, penonton harus diperhitungkan dalam pembuatan sebuah karya. Maksud saya, setiap sineas punya pilihan juga signature yang ingin ia torehkan di dalam karyanya. Saya sendiri termasuk penggemar film-film bertempo relatif lambatnya Anthony Minghella atau film-film Inggris pada umumnya, tapi saya ternyata kurang sabar dengan film Garin yang satu ini. Menurut saya Garin mem-push penontonnya terlalu jauh melebihi batas toleransi, nyaris tanpa jeda. Atau siapakah sebenarnya penonton Garin? Mungkin dia memang sudah tahu kelompok penonton tertentu yang bisa menikmati karyanya dengan lega dan tanpa gerutu.

to none of you

the essence of your last words has betrayed what was written
or, rather, I was the one who sneaked in just enough to see you’re
alive, still writing and reviewing and asking to click your links,
still quoting dead men’s wisdoms in an effort to bury your fears of
being told that you’re a crying baby at the church’s door,
of being abandoned by your surrogate mothers
that you collected at the departure gates, campus dormitories,
cramped bedrooms, clogged toilet drains, silent tunnels
I left that day because I wanted to visit you in silence
knowing, now, that you were the joker all along
disguised in a sad, white outfit you loved to wear
remember who had the last words? you
because there are days when words struck me as
irrelevant

now you know I, too, was the joker all along

Take yourself lightly

Mungkin saya orang yang paling tidak konsekuen karena sering mengatakan hal itu, dan sering pula melanggarnya: terkadang masih terlalu kenceng dan serius dalam bereaksi. Contohnya soal perpanjangan KTP tempo hari. Karena berada di Bali sementara KTP Jogja, jadilah saya merepotkan banyak orang dan kelabakan sendiri karenanya. Saya kenceng, mereka tak kalah kenceng. Jadinya? Bubar. KTP tak terurus hingga sekarang. Belum.

Selang berhari-hari, KTP tetap belum diurus, tapi saya ingat kembali untuk menyikapi hidup dengan santai dan gembira. Toh sudah banyak hal yang ada dalam genggaman saya, kenapa tidak bersantai sejenak? Hari ini saya menikmati hari saya bersama para bapak-bapak ganteng di department Engineering. Kami main game bahasa bersama dengan menggunakan papan permainanan, koin dua ratus perak, dan token-token kecil berwarna. Ketawa ngakak, saling meledek… Seru. Sesekali terdengar pesan-pesan tugas dari HT mereka. Tolong, panggil Terminix, di kolam banyak kodoknya. Hampir 2 jam berlalu tanpa terasa. Siapa bilang saya sedang kerja? Saya sedang bersenang-senang dan tetap berguna. 🙂

Di seberang, seorang kolega saya yang berposisi jauh lebih tinggi menenteng laptopnya menuju board room. Seorang kolega lain yang kebetulan lewat menyapanya, “Eh, tumben ada di sini. Lagi ngapain, Mbak?” Mungkin sekedar pertanyaan iseng daripada tidak ada sama sekali. Sayang keisengan ini tidak berbalas, karena jawaban yang diterima adalah, “Ya kerja dong!” OK deh.

Mungkin ada orang yang cukup kokoh dan berenergi dengan bersikap serius setiap saat. Saya pernah seperti itu. Rasanya tidak enak. Mengapa keukeuh pada satu hal, padahal dunia ini menawarkan banyak dimensi warna? Kalau kamu sudah tahu caranya untuk membawakan diri dalam situasi formal, kenapa tidak mencoba untuk gila-gilaan seperti nyemplung di sungai? Mengapa tidak tertawa saja bersama kodok-kodok di kolam itu, yang tidak tahu bahwa sebentar lagi akan dibasmi oleh ‘pembunuh bayaran’ Terminix?

“Take yourself lightly. Be an angel.”

“Jangan dipaksain… Nanti stress!”

olga2

Belum lama ini seorang teman meminjami saya buku tentang reinkarnasi dan dunia roh. Di dalam buku itu terdapat sebuah contoh kasus di mana seorang ibu yang dihipnotis masuk ke dunia rohnya, mendapati bahwa putranya adalah titisan kakeknya yang selalu melindunginya semasa hidupnya. Kebijakan si kakek terbaca dari tindak-tanduk dan tutur kata bijak dari anak bertubuh mungil itu, membuat si ibu yakin bahwa ia senantiasa berada dalam lindungan roh yang menyayanginya itu.

“Mama tuh seperti anakku,” begitu ucap Olga, anak saya, ketika saya pulang ke Jogja seminggu yang lalu. Saat itu kepala saya ada di pangkuan gadis 10 tahun itu. Itu karena kebiasaan saya bermanja-manja dengannya. Dan Olga tahu bagaimana memanjakan saya. Suatu hari dia memijiti punggung saya. Hari berikutnya dia men-treatment kaki saya – semacam pedicure, minus aplikasi kuteksnya. Begitupun saya tahu dia sedih ketika saya harus kembali ke Bali, dia tidak menangis, karena dia tahu itu akan membuat saya sedih.

Semalam saya berbicara dengan Olga via telpon. Saya mengatakan rencana saya mencari tempat kos baru. Inilah kata-kata bijak yang keluar dari mulut kecilnya yang sedikit monyong:

“Mama, cari kos yang bagus. Jangan dipaksain nyari kos yang murah, ya. Mentang-mentang murah, nanti malah bikin stress!”

Sejenak saya tergoda untuk menggodanya. Eh, anak kecil ngomongnya sok tua nih… Dan tak urung saya tertawa terbahak, demikian pula dia.

“Iya, akan mama cam-kan. Mama nggak akan paksain. Mama nggak mau stress,” kata saya.

She’s lucky to have you, but you’re luckier to have her. Begitu kata beberapa sahabat saya tentang putri kecil saya yang hebat itu. Seandainya saya bisa sekuat dia: berulang kali merelakan ibunya pergi mencari yang dia cari, dan kini harus hidup menanggung efek perpisahan orangtuanya dan masih bisa mengatakan pada saya untuk terus tersenyum. Dialah tanah bagi unsur kayu saya. Mungkin saja di kehidupan sebelumnya, Olga memang ibu saya.