Bau

Saya termasuk orang yang toleran, tapi tidak terlalu untuk masalah bau. Rangsangan bau bisa langsung bereaksi di otak saya, dan lama-terekspose terhadap bau tertentu juga bisa mempengaruhi emosi saya terhadap sesuatu atau seseorang.

Mohon maaf, berat bagi saya untuk disebut rasis, tapi bau kadang berhubungan dengan ras. Memang ini generalisasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, misalnya Cina=bawang putih, India=kapulaga, Afrika=daging bakar, dll. (Kalau Jawa=daun salam kali ya?) Saya pernah serumah dengan orang Tanzania selama 2 tahun, dan selama itu pula saya harus membiarkan pintu kamar mandi terbuka lebar selama 30 menit setelah dia pakai karena saya tidak tahan aromanya yang berbaur dengan uap panas. Untunglah, hubungan kami tetap baik-baik saja terlepas masalah itu. Satu bis dengan serombongan orang India yang bau minyak dan rempah-rempah membuat saya hemat udara karena kebanyakan menahan napas. Sebaliknya, waktu saya dapat roommate orang Yordania, saya senang sekali karena apartemen saya jadi wangi. Ini karena kebiasaannya mengisap  shisha (rokok Arab) dengan berbagai aroma: apel, coklat, anggur… yummy!

Salah seorang teman pria pernah berkata di ujung telepon,

“Gimana sama bauku? Apa kamu suka bauku?”

“Baumu nggak masalah. Masih dalam tolerance range saya,” jawab saya.

Kami tertawa. Walaupun baunya “tidak masalah,” tidak ada pengaruhnya dengan status hubungan kami. Statis dan tidak ke mana-mana.

Sebut saja A (halah, kaya awalan cerita kriminal di koran daerah!), yang bersuamikan B. Dulu waktu masih cinta, bau tidak jadi masalah. Saat cinta sudah kadaluarsa, bau bawang putih B jadi menyengat di hidung A dan membuatnya mau muntah. Kasian deh lu, B! Makanya pakai parfum jangan cuma waktu pacaran dong. Tahunan menikah kadang membuat orang lupa mengurus diri (baca: menambahkan ‘parfum’ dalam daftar belanja).

Bau juga bisa bikin kita kehilangan rejeki. Dulu pernah saya hampir di-assign untuk mengajar sekelompok murid pendatang dari daerah X (maaf, case sensitive nih). Otak saya langsung mengasosiasikan mereka dengan bau tidak enak. Akhirnya, pekerjaan itu diberikan ke kolega saya yang hidungnya lebih toleran.

Saya berharap indera penciuman saya tidak serewel ini. Tapi apa mau dikata? Dan saya harap, saya cukup menjaga diri saya supaya tidak mencemari udara yang dihirup orang-orang di sekitar saya.  Cuma, sayangnya, saya tidak tahu lagi harus bagaimana (judul lagu pop) kalau ada yang alergi sama bau parfum saya.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s