How to treat your enemy

Semalam saya akhirnya nonton juga film Letters from Iwo Jima – karya the amazing Clint Eastwood itu. Mengenai alasan kenapa saya baru menyaksikan film itu, mungkin terkait dengan sentimen negatif saya mengenai film-film perang. Bukan karena alasan saya suka damai dan sebangsanya, tapi lebih karena takut melihat begitu banyak manusia yang mati dalam bentuk yang sungguh tidak layak, selain juga karena warna-warna dan tekstur dominan dari film-film perang yang hijau kotor, coklat lumpur, suram dengan aksentuasi merah-oranye darah, dan latar belakang dentuman granat, rentetan bunyi senapan mesin, dan bunyi senapan-senapan dikokang. Mekanis dan membuat depresi dengan cara yang berbeda dari film-film suspens thriller yang sama-sama mengumbar darah dan kekerasan.

Kembali ke Iwo Jima (yang dvd-nya saya dapat seharga Rp 1.000,- dari lelangan barang-barang lama kantor saya), sebenarnya saya sudah bisa menduga bakalan disuguhi ‘moral of the story’ absurditas perang dengan sentuhan-sentuhan humanis yang menjadi ‘signature’ kedalaman seorang Clint Eastwood. Bukankah banyak dari kita adalah perajurit keroco Saigo? Sementara Jenderal yang diperankan Ken Watanabe yang karismatik itu hanyalah gagasan utopis tentang konsep diri kita?

How to treat your enemy? Tokoh Nishi yang romantik memilih untuk merawat prajurit Amerika yang terluka, sementara dia sendiri tak kebagian morfin saat matanya terkena pecahan mortir. Si prajurit Amerika mati, Nishi pun mati. Jejak humanismenya bersumber dari sepucuk surat dari ibu si prajurit yang dibacakan Nishi di hadapan para prajurit Jepang sebelum kematiannya. Surat yang bercerita tentang anjing keluarga Amerika ini yang mengganggu ayam-ayam tetangga. Musuh juga manusia. Saigo memproses itu dari dalam dunia kecilnya.

Musuh. Ternyata saya tidak bisa berkata bahwa saya tidak punya musuh. Musuh-musuh kita mungkin tidak setegas itu maknannya seperti di medan perang. Seperti dalam satu adegan flashback si Jendral Jepang, “musuh-musuh” kita duduk semeja, makan siang bersama kita dan saling bercerita sambil tertawa-tawa. “Musuh-musuh” ada dalam wujud friksi-friksi gagasan, cara berpikir, perbedaan pengalaman hidup dan cara bersikap. Bila salah mengambil tindakan dan tergelincir, mungkin sama efeknya dengan menginjak ranjau: jangan tanya bentuk lagi, pasti jauh dari indah.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s