Kisah Sepatu dan Perjodohan

Kepala saya enggan percaya pada hubungan jarak jauh, walaupun kenyataannya saya melakukan yang sebaliknya. Malam minggu yang lalu, saya diajak sepupu ke Kuta Square. Agenda utama: beli sepatu baru pakai uang jatah sepatu dari kantor. Di Animale, saya ketemu jodoh saya – sepatu indah yang empuk dan punya “attitude,” kuat – yang merangkul estetika sekaligus kenyamanan. Pokoknya, biarpun mahal, it’s worth every cent dah. Langsung saya pakai begitu keluar dari toko, dan menjelajah bekas lokasi bom Bali itu sampai malam semakin larut. Sembari mata saya browsing barang-barang indah yang mengancam kantong, hati saya mengunyah perih atas pengkhianatan dan ketidakdewasaan seorang kekasih. Toh bukan yang pertama kali dia begini, dan saya sudah tahu resiko ini, jadi biarpun sakit, tidak sampai bikin air mata berlinang seperti dulu.

Saya jadi teringat kata-kata Eta. Walaupun dengan gaya bicaranya yang halus dan eufumistis dengan logat Semarangan yang kental, saya tahu dia mau saya berhenti berharap pada hubungan yang romantis, utopis, nggak realistis ini. Dan sekarang saya memutuskan: Eta benar. Lelaki kesayangan saya itu bukan “sepatu empuk ber-attitude” untuk saya. Jadi saya “menanggalkan”-nya. Atau itu mungkin bahasa lain dari menghukum dia karena gagal mencintai saya dengan sempurna? Sangat mungkin. Saya ingat Bree dalam Desperate Housewives yang meninggalkan anak remajanya yang kurang ajar di jalan, setelah sebelumnya membekalinya dengan tas lengkap berisi pakaian dan uang. Mencinta bukan berarti tidak menyakiti, pun sebaliknya. Kadang-kadang masalahnya adalah batas kapasitas kita. “I can’t stand having you around me anymore.” Sekalipun saya tahu tidak ada yang namanya kesempurnaan cinta, cacat cinta tertentu tetap tidak bisa saya terima.

Saya menutup malam minggu saya dengan menyantap soto ceker di bilangan Kuta. Enak, empuk, gurih dan… murah! After all, we all seek comfort. I’ve got my new stylish shoes, my comfort food, …  Menjelang tidur malam, saya pungut amplop putih berisi kartu bergambar jembatan yang ada di samping bantal saya. Kiriman darinya yang sekarang menghuni kopor/gudang penyimpanan saya karena jembatan itu memang tidak pernah jadi dibangun.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s