Kok aku becanda terus?

Ehhhhh…. siapa bilang? Aku tuh orangnya serius abis. Tapi kelamaan serius, jadinya kenceng juga. So, becanda sedikit boleh lah. Banyak apalagi. Tapi, becandaku nggak bisa menandingi Lik Sumar, kolegaku yang lagi sewot-sewotnya sama aku itu. Kalau dia sih sudah di ambang kegilaan. Serius.

Tapi menurut teori Freudagnesian, yang lahir setelah Lacanian, kegemaranku becanda dimotori oleh perasaan bersalahku terhadap orang-orang di sekitarku. Bayangkan saja. Hidup ini kan sudah semakin sulit. Cari duit pontang-panting seakan nggak pernah cukup. Nyekolahin anak nekak pangkal leher. Mau mengusung misi pendidikan tapi kok susu nyaris nggak terbeli. Masa mereka harus juga dibebani keseriusanku? Kan nggak perlu. Yang serius tuh menyakitkan lho. Inget film A Few Good Men kan? Waktu Jack Nicholson bilang, “You can’t handle the truth!” menurutku dia benar. Dalam banyak hal, kita cenderung, dan kadang memang harus, berkamuflase. (Lho emang the truth tuh terjemahan dari kata ‘serius’ ya?)

Sejauh ini aku merasa tulisan ini aneh. Tapi biarlah. Kemarin siang, Bu Retno, mantan dosenku yang kini kolegaku, bilang pada kami, para dosen muda yang ganteng-ganteng dan kenes-kenes (halah!), “Lho bapak-bapak dan ibu-ibu ini katanya nggak punya uang, kok pada punya laptop?”

Piye to, Bu? Kami memang nggak punya uang, tapi punya laptop…

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s