Rogoh dompetnya!

Sewaktu MJ (Michael Johns, bukan Jackson) tersingkir dari lomba nyanyi American Idol minggu lalu, saya, dan saya yakin banyak wanita yang lain, nggak rela membayangkan dia kembali ke pelukan istrinya. Sungguh sial ratusan juta perempuan lain. Tapi Jeng Wid mungkin saja benar, “Mbakyu, Michael married her for the green card!” Tentu saja kami cuma becanda, walaupun mungkin saja MJ yang asli Aussie itu mendapat banyak kemudahan berkat sang nyonya.

Tapi, lagi-lagi, tentu saja bukan itu masalah yang ingin saya stabilo (maksude garisbawahi, highlight, dst.) Saya dan beberapa teman sesama jomblo cantik dan seksi (ya, silahkan muntah) punya pemikiran soal mencari pasangan. Kami sering chatting dan segala macam smiley kami pakai untuk mewakili sukacita kami dalam membahas topik satu itu. Artinya, kami mungkin serius, tapi kami jelas setengah becanda. Mendapatkan pasangan itu semudah atau sesulit mengubah suatu budaya. Dan dalam kasus saya: sulit!

Saya ini berdaya khayal tinggi sejak kecil. Besar bersama tokoh-tokoh H.C. Andersen hingga Old Shatterhand, komik Nina hingga Pendekar Rajawali Sakti, saya membentuk konsep saya tentang keindahan. Belakangan saya sadari, itu nggak menguntungkan saya sama sekali. Keindahan ternyata tukang khianat. Saya selalu jatuh cinta pada orang-orang yang “indah” dan dalam kasus saya, “indah” ekuivalen dengan “salah.” Seandainya saya bisa selugas Jeng Wid, yang suka ngece saya “Kamu nih selalu seneng sama yang melarat-look,” mungkin nasib saya lebih bagus dari sekarang (yang sebetulnya nggak terlalu jelek juga).

“Jadi, kamu masih juga nyari orang yang seksi?” tanya seorang sahabat saya hari ini. Dan saya tahu, yang seksi itu potensial untuk mengecewakan di kemudian hari. Sejarah saya sudah bicara. Dan dompet adalah lawan kata seksi – maksudnya, saya harus mengubah cara pandang saya mengenai mencari pasangan. Kepala saya cenderung untuk setuju dengan si Dompet, tapi hati saya, lagi-lagi, masih mencengkeram pagar pembatas itu. Seandainya, bisa beruntung mendapat yang sexy nan dompet-y kaya Owen Hargreaves gitu… Huh, mana bisa begitu kan? Saya masih menjadi pengamat budaya dompet itu tadi. Mungkin sebentar lagi saya mau donlot foto-foto Donald Trump atau Aburizal Bakrie buat dipajang di desktop. Cape’ deee!!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s