Otomatis puitis!

sulur-sulur di tapak tangan tak bersinggung
aku luka sepanjang jalan
kau tak menepi juga

Absen dari dunia chatting, aku dan co yang mengingatkanku pada Nemanja Vidic itu saling berkirim email. Old school memang, tapi rasanya setiap kalinya jadi jauh lebih berarti daripada sekedar mengumbar kata di kotak messenger, di mana setiap yang manis bisa mengkhianati dalam hitungan detik. Kevakuman yang otomatis hadir di antara setiap kabar menjadi ruang untuk mengenali kembali diri sendiri dan masing-masing. Sejauh mana intensi bergerak merengkuh. Atau bahkan menjauh. Toh kami baik-baik saja.

Dua tahun berlalu sejak berdua duduk-duduk di pinggir danau Potter menyaksikan kodok berloncatan. Kalau nggak salah waktu itu salah satu topik pembicaraannya adalah: harta karun apa yang ditemukan di dasar danau seandainya danau dikeringkan? Jawabannya: celana dalam. Haha. Untung kami nggak berlama-lama di sana dan balik malam itu juga, karena paginya tornado menerjang kota kami, membunuh 3 orang, mematikan listrik dan gas di seluruh distrik, merusak sebagian kampus, dan bikin kami libur beberapa hari.

Kemarin aku bilang aku penat ngajar (dan sedikit kangen sekolah lagi). Hari ini dia bilang dia capek pada segalanya (dan kangen ngajar lagi). Human nature, menginginkan yang tidak dimiliki.

Jadi inget Eta yang bilang bahwa aku sudah cukup berusaha. Dia benar.

Udah ah. Lagian ini tahun tikus, bukan kodok. Tuh, di luar hujan lagi. Paling enak melungker. Gong Xi Fa Cai!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s