Oh…. My love…. My darling…. (Hantu!!!)

Some time last year I met this smart guy who told me about his experiences of seeing supernatural beings. He said, “Everybody thinks I’m a highly rational person. And I am. It drives people crazy sometimes. I will not take anything as truth until it’s well verified.” He meant he wouldn’t believe if he didn’t see.

But what’s new about ghosts? I don’t see supernatural beings, yet I believe they exist. And like that guy , I believe I also rely on logic most of the time (and this has driven some people away from me too!) Some people in my family (mom, bro, grandpa, cousins) had or have that sixth sense or whatever they call it. Some friends from various circles told me a similar thing. Some professors and students in my university, too. My point is, I don’t think the experience of seeing ghosts has anything to do with one’s intellectual capacity at all. Those people happen to be in the same “frequency” those ghosts are when they “see” them – that’s according some sources that I read and watched on Discovery Channel.

This morning, again, I read a case of possessed school children on paper. To me, it’s not a matter of whether it’s real or not. It’s as real as the sun shines. One has to be in a certain condition to be possessed (the frequency, energy, whatever…), a condition that I always lack (thank God). Though I’m not inclined to supernatural things, I’m pretty curious to find out why this phenomenon happens quite a lot in this community, and perhaps not in others.

The world according to…

Fenomena menarik terjadi di panggung Academy Awards tahun ini. Bila tahun lalu Inarritu dan Cuaron semakin lantang menorehkan prestasi, tahun ini dunia keaktoran dikuasai para aktor non-Amerika. Tengok saja para peraih piala Oscar-nya: Marion Cotillard (Perancis), Daniel Day-Lewis (Inggris), Tilda Swinton (Inggris), dan Javier Bardem (Spanyol). Ini sejalan dengan jenis film-film yang diunggulkan, yang jelas-jelas bukan tipikal film mainstream box office dan bakalan diputar di bioskop 21.

Teori bodoh saya: segala sesuatu yang formulaik sudah habis masanya. Dan dunia hiburan Amerika Serikat selalu dekat dengan sistem formula. Waktu saya sekolah di Jurusan Teater dan Film di Kansas, AS, saya bisa simpulkan bahwa rekan-rekan satu departemen saya masuk program teater karena kepingin jadi bintang film atau sangat Broadway-oriented. Pendeknya: masuk dunia industri yang tentunya berorientasi pasar itu. Hasilnya agak gampang ditebak: panggung audisi di kampus dipenuhi para aktor amatir dengan akting standar, yang sebagus-bagusnya, terkesan baku dan monoton.


Sewaktu memilih aktor untuk peran Dicky di film The Talented Mr. Ripley, Anthony Minghella mengatakan bahwa ia tidak menemukan satu aktor Amerika-pun yang punya daya tarik fisik sekaligus kharisma “from out there” yang dibutuhkan untuk tokoh Dicky, seorang pemuda Amerika. “Mereka terlalu populis,” ujar Minghella. Maka dipilihnya Jude Law, seorang aktor Inggris. Saya sepakat (hihihi… emang saya siapa ya?) Karena menurut saya, secara umum aktor Amerika itu terlalu jaim, atau kalau tidak jaim, ya terlalu sibuk dengan ke-celeb-annya. Nah, kalau sudah begitu, aktingnya mentok begitu-begitu saja. Kalau ada olimpiade akting internasional, mereka pasti ngos-ngosan bila dilawankan aktor-aktor sekelas David Thewlis, Brenda Blethyn, Timothy Spall, atau bahkan si seksi Gael Garcia-Bernal.


Tapi Amerika masih punya aktor-aktor dengan akting “nggilani” kok. Ini komplimen buat nama-nama semisal seperti Philip Seymour Hoffman, Frances McDormand dan Meryl Streep. Salut!

Girls talk

Oh La La cafe, Saturday evening
It was good not to know anybody
Besides, I had my back on almost everybody

We talked in between our chicken salads
And hot caramel latte
This isn’t just mentioning or list-making
This is so that you taste what we tasted

But you couldn’t
It was a raisin from heaven
Not to have a soul to tell a secret

You are not that lucky, no
To have what I have
To find what I found

To be NOT with the other half of you
To have not slept with it
The truest, the closest to your
Beautiful death bed

Just a cause

The tyranny of good and harmony happened to me at workplace. The good is not always good along the way – in fact I am sick to the stomach with all of this bullshit they bragged about loyalty. I am not committed to any unrewarded dedication: “show me your worth and I’ll pay you later,” that kind of thing in a professional world. Eeeew… Call me pain in the ass, but I’m not in a position to show myself anymore. I’ve done that part. It might be hard to believe how some leaders demand their subjects’ obedience and responsibility while disregarding their rights. I’ll tell you, it is really not surprising. Stupid is everywhere around me. Or, perhaps it’s not the case of stupidity. Oh no. It’s cultural! Right! Here, it’s culturally embarrassing to talk about one’s rights. Discussing number or getting a promotion (not to mention by a woman, mind you!) is taboo. I made it clear: slavery was against human rights! (of course, that wasn’t my exact expression 🙂 )

I gave them hard time, I know. I’ve got the feeling that we’re losing each other. Neat.

Tiga-tiga

Angka keramat ya, teman? Terlepas bahwa Yesus meninggal di usia itu, yang jelas, I stopped counting a long time ago. Tiga-tiga. Usia yang menurutku belum pantas aku sandang, for better or worse!

Menikmati hari seperti hari ini. Mengajar para dosen di Fakultas Farmasi, dan berhasil mengerjai Mr. J yang boljug, seperti biasa. Lalu ikut mengevaluasi audisi buat pentas “Jack, or The Submission”. Menyenangkan. Bagiku sangat mudah memberikan segala potensi yang ada dalam diri. Sepele. The key is generosity. Dalam apapun: mengajar, dunia seni, akting, dan keseharian. Memberi tanpa batas seperti cake black forest yang lumer di lidah. Ini bukan sekedar teori.

Jadi, aku sering nggak mengerti, kenapa orang nggak mudah memberi. Apalagi kalau memang sayang dan peduli. Aku kecewa karena berharap pada yang nggak punya kemampuan memberi. I am giving it up.

Seorang teman di Mississippi hari ini mengatakan bahwa memang benar bahwa kami ini orang-orang yang peduli akan banyak hal, “…but we should keep in mind that we have tendency to think about things too seriously.” Betul. Betul. Hidup nggak usah terlalu serius.

Forget my intention to stay forever young, there’s a huge source of stress coming up: MU vs. Arsenal tonight!

Tonight, tonight,
Won’t be just any night,
Tonight there will be no morning star.
Tonight, tonight, I’ll see my love tonight.
And for us, stars will stop where they are…

(“Tonight” – The West Side Story)

:)

img_9840.jpg

I, too, was once a 4-year-old… (Think someone will feel humiliated. heee… heee… heee)

The fact is I was pissed because MU lost in a derby match against Manchester City last night. So, this is the way I entertained myself.

Otomatis puitis!

sulur-sulur di tapak tangan tak bersinggung
aku luka sepanjang jalan
kau tak menepi juga

Absen dari dunia chatting, aku dan co yang mengingatkanku pada Nemanja Vidic itu saling berkirim email. Old school memang, tapi rasanya setiap kalinya jadi jauh lebih berarti daripada sekedar mengumbar kata di kotak messenger, di mana setiap yang manis bisa mengkhianati dalam hitungan detik. Kevakuman yang otomatis hadir di antara setiap kabar menjadi ruang untuk mengenali kembali diri sendiri dan masing-masing. Sejauh mana intensi bergerak merengkuh. Atau bahkan menjauh. Toh kami baik-baik saja.

Dua tahun berlalu sejak berdua duduk-duduk di pinggir danau Potter menyaksikan kodok berloncatan. Kalau nggak salah waktu itu salah satu topik pembicaraannya adalah: harta karun apa yang ditemukan di dasar danau seandainya danau dikeringkan? Jawabannya: celana dalam. Haha. Untung kami nggak berlama-lama di sana dan balik malam itu juga, karena paginya tornado menerjang kota kami, membunuh 3 orang, mematikan listrik dan gas di seluruh distrik, merusak sebagian kampus, dan bikin kami libur beberapa hari.

Kemarin aku bilang aku penat ngajar (dan sedikit kangen sekolah lagi). Hari ini dia bilang dia capek pada segalanya (dan kangen ngajar lagi). Human nature, menginginkan yang tidak dimiliki.

Jadi inget Eta yang bilang bahwa aku sudah cukup berusaha. Dia benar.

Udah ah. Lagian ini tahun tikus, bukan kodok. Tuh, di luar hujan lagi. Paling enak melungker. Gong Xi Fa Cai!