Peminum teh

Ini tulisan lama yang dulu pernah aku publish di Friendster – before a psycho hacked my account.

Minum teh dulu salah satu kegiatan rutinku sewaktu masih kuliah di KU (Uni. of Kansas). Setiap kamis, mulai jam 4 sore, di lobby Kansas Union disediakan teh, limun (hehehe… dah lama nggak denger kata ini), cookies dan brownies. Kami antre dengan tertib, dan kalau datang awal, kami bisa mendapatkan teh dengan cangkir porselen putih, dan bukannya gelas plastik. Kalau beruntung, kami dapet dua macem makanan kecil yang penampilannya mengundang selera. Tapi nggak jarang mbak-mbak yang jaga stand jutek banget dan nggak melayani pertanyaan, apalagi permintaan nambah kue kering. So, just forget it.

Tentu saja bagian paling asyik dari acara minum tersebut adalah ngumpul-ngumpulnya. Biasanya sehari sebelumnya aku dan beberapa temen, seperti Jeng Wied, Eta, Khady dan Maiko telfon-telfonan, atau nulis di wall Facebook masing-masing. “Aku mau menikmati teh besok, kakangmbok mau bergabung?” Ya jelas, kami biasanya nggak melewatkan kesempatan ketemuan dan update berita-berita terhangat, karena mahasiswa grads kaya kami susah nyari waktu luang. Dari acara ini pula aku mengenal kata-kata ajaib seperti chof, sai sai, sof, chuchu guy, fugujay, sekaligus bareng Jeng Wied mempopulerkan kata-kata seperti “melarat”, “pelit”, dan “matre”. Mostly to describe guys. Hihihi…

Dengan makanan dan minuman nikmat di tangan, kami duduk manis dan memulai ritual updating news alias menggosip. Biar nggak terlalu berasa “ibu-ibu tua Inggris dengan acara minum teh di sore hari,” sesekali kami tebar pesona sesama penikmat teh. Sebelnya kalau ternyata yang nyamperin si bapak-bapak tua, salah seorang pengunjung reguler acara tersebut. Dia akan nanya dari mana asalmu, dan dengan asalnya akan menyebut sederet nama binatang dan katakunci template yang dia pikir bakalan membuatmu kagum “Oh… Java, ya? Orangutans? Komodo dragons? Batik? Bali?” Udahlah, Om… Udah sore, ntar masuk angin…

Sesekali bernostalgi boleh kan? Iya, tehnya memang gratisan. But the tea was also warm. The folks we hung out with, loveably bittersweet. The topics we talked about were things we did there – our life in brackets. Sebagian nggak mungkin kami ulang dan ceritakan lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s