Naskah terjemahan: naturalisme yang terreduksi

Seorang dosen jurusan teater Universitas Kansas pernah berdiskusi dengan saya perihal naskah-naskah drama berbahasa Inggris yang diterjemahkan dan dipentaskan dalam bahasa Indonesia, khususnya yang beraliran realisme/naturalisme. Bagaimana naskah asing mengalami transformasi saat diterjemahkan/dipentaskan, dan terkadang mengalami pergeseran genre, menarik untuk di pelajari. Dari sedikit yang sudah saya tonton dan bandingkan pementasannya dalam dua bahasa tersebut, ada kesamaan impresi yang saya dapatkan: naturalisme bahasa asli (Inggris) tidak terterjemahkan dalam bahasa nasional kita. Apa yang terdengar keseharian dalam naskah berbahasa Inggrisnya, seperti dialog antara Clov dan Hamm dalam Endgame karya Samuel Beckett, menjadi sastrawi saat dipentaskan dalam bahasa Indonesia. Walaupun Endgame, seperti halnya Menunggu Godot, dianggap sebagai drama absurd, banyak dialog di dalamnya berpola realis. Sepertinya penerjemah harus memutuskan untuk menggunakan bahasa yang banyak dipakai dalam karya-karya sastra yang indah dan relatif abadi, atau bahasa keseharian. Karena para penulis naskah drama dunia seperti Beckett, Edward Albee danTennessee Williams sering dikategorikan sebagai sastrawan klasik, seringkali penerjemah (yang tidak jarang adalah juga sastrawan) menterjemahkan analogi-analogi dan ungkapan-ungkapan idiomatik sehari-hari yang mereka pakai ke dalam bahasa Indonesia yang kedengaran puitis di telinga kita.

Mengejar naturalisme bahasa Indonesia dalam hal penerjemahan naskah jelas bukan pilihan yang aman karena terkait banyak faktor. Apakah bahasa Indonesia yang akan dipakai adalah bahasa kontemporer yang berkiblat ke-Jakarta-an? Atau bahasa keseharian yang tidak menyertakan bahasa gaul yang cepat munculnya, cepat pula hilangnya? Belum lagi permasalahan dialek dan aksen kedaerahan yang sangat riil dalam konteks kehidupan kita, orang Indonesia. Permasahannya bukan terletak pada soal formal/tidak formalnya bahasa yang digunakan maupun soal ragam bahasa tulis atau lisan. Menerjemahkan naskah asing ke dalam Bahasa Indonesia yang “natural” yang secara aktif kita pakai sehari-hari menyertakan kerumitan tersendiri. Misalnya, seorang aktor yang lahir dan hidup di Jawa (Tengah atau Timur) yang memainkan tokoh yang berbicara dalam bahasa Indonesia dalam sebuah drama realis akan menciptakan semacam perasaan “janggal” bagi penontonnya karena adanya kesenjangan antara bahasa yang dipakai dan fakta nonverbal maupun paralinguistik si aktor. Because that’s not the way he normally speaks.

Dalam banyak kasus, penerjemahan naskah drama asing ke dalam bahasa Indonesia, dalam hal ini naskah-naskah realis dan naturalis, “naturalisme” sebagaimana yang dimaksud para dramawan barat tidak bisa tidak terreduksi karena berbagai faktor di atas. Adaptasi naskah, dan bukannya terjemahan, mungkin bisa menjadi pilihan kalau memang keakuratan realisme yang ingin dikejar. Dan bahasa lokal/daerah, selain juga bahasa Indonesia berdialek, yang digunakan secara sadar bisa menjadi ragam yang memperkaya khazanah teater tanah air kita.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s