Orang Jawa ngomong Indonesia: aneh atau lucu?

Ke-Jawa-an dan logat Jawa yang kental sering menjadi sesuatu yang lucu saat dengan sadar dan sengaja ditampilkan di media hiburan massal seperti sinetron. Sesuatu menjadi “aneh,” “janggal,” atau “lucu” karena subjek itu dianggap tidak memenuhi standar nilai kelompok yang dominan/superior. Dalam hal ini, “ke-Jawa-an” masuk dalam satu kategori bersama-sama “ketambunan,” “kecebolan,” “kebancian,” “kehitaman (kulit),” “ke-Madura-an,” dan lain-lain. Semakin lebar suatu karakteristik berdeviasi dari norma “standar,” semakin ia dianggap inferior. Ke-Jawa-an, sebagaimana halnya dengan devian-devian lainnya, menjadi bahan “lucu-lucuan” dalam dunia hiburan, dan sering kali mendapatkan status sosial rendahan karena dekatnya dengan citra “kampung”. Sinetron OB, sebagai contoh, menampilkan ke-Jawa-an tokoh Sayuti (petugas cleaning service) sebagai salah satu sumber lelucon. Tokoh pembantu rumah tangga juga seringkali digambarkan dengan karakter ke-Jawa-an, kontras dengan dominasi ke-Jakarta-an para tokoh utamanya.

Belum lama saya menyaksikan beberapa film pendek, proyek matakuliah mahasiswa MMTC (Multi Media Training Center), Yogyakarta. Satu cerita berseting di sebuah lokasi di Jawa Tengah, mengetengahkan permasalahan keseharian, seperti suami yang tidak kunjung mendapat pekerjaan. Perasaan ngganjel lagi-lagi muncul, berkenaan dengan bahasa Indonesia yang digunakan para tokohnya. Secara logika saya yakin orang-orang di daerah itu tidak biasa berbicara dalam bahasa Indonesia dalam keseharian mereka. Para aktornya juga hampir semuanya berlogat Jawa. Terus terang, aneh mendengar mereka membicarakan persoalan hidup mereka dalam bahasa Indonesia, mungkin karena kerangka berpikir saya adalah menyaksikan sebuah drama realis. Apa sejarahnya kok orang-orang Jawa ini ngomong bahasa Indonesia? Timbul pikiran, kenapa ndak pakai bahasa Jawa wae, to? Kan masuk akal dan lebih nyaman ditonton (oleh saya yang orang Jawa). Sinetron Losmen yang populer di tahun 80-an di TVRI tidak terlalu menghadapi kendala kesenjangan bahasa karena ada logika yang menyertainya. Para pengelola losmen yang berlokasi di Jogja itu berbahasa Indonesia secara aktif (selain berbahasa Jawa) karena secara riil dan profesional berhadapan dengan para tamu dengan beragam latar belakang. Acara TVRI Jogja Mbangun Desa beberapa tahun silam menjadi primadona pemirsa lokal, salah satunya karena tokoh-tokohnya tidak dipaksa secara tidak logis untuk berbahasa Indonesia. Asyik. Ndak ngganjel. Nyamleng (lezat)!

Naskah terjemahan: naturalisme yang terreduksi

Seorang dosen jurusan teater Universitas Kansas pernah berdiskusi dengan saya perihal naskah-naskah drama berbahasa Inggris yang diterjemahkan dan dipentaskan dalam bahasa Indonesia, khususnya yang beraliran realisme/naturalisme. Bagaimana naskah asing mengalami transformasi saat diterjemahkan/dipentaskan, dan terkadang mengalami pergeseran genre, menarik untuk di pelajari. Dari sedikit yang sudah saya tonton dan bandingkan pementasannya dalam dua bahasa tersebut, ada kesamaan impresi yang saya dapatkan: naturalisme bahasa asli (Inggris) tidak terterjemahkan dalam bahasa nasional kita. Apa yang terdengar keseharian dalam naskah berbahasa Inggrisnya, seperti dialog antara Clov dan Hamm dalam Endgame karya Samuel Beckett, menjadi sastrawi saat dipentaskan dalam bahasa Indonesia. Walaupun Endgame, seperti halnya Menunggu Godot, dianggap sebagai drama absurd, banyak dialog di dalamnya berpola realis. Sepertinya penerjemah harus memutuskan untuk menggunakan bahasa yang banyak dipakai dalam karya-karya sastra yang indah dan relatif abadi, atau bahasa keseharian. Karena para penulis naskah drama dunia seperti Beckett, Edward Albee danTennessee Williams sering dikategorikan sebagai sastrawan klasik, seringkali penerjemah (yang tidak jarang adalah juga sastrawan) menterjemahkan analogi-analogi dan ungkapan-ungkapan idiomatik sehari-hari yang mereka pakai ke dalam bahasa Indonesia yang kedengaran puitis di telinga kita.

Mengejar naturalisme bahasa Indonesia dalam hal penerjemahan naskah jelas bukan pilihan yang aman karena terkait banyak faktor. Apakah bahasa Indonesia yang akan dipakai adalah bahasa kontemporer yang berkiblat ke-Jakarta-an? Atau bahasa keseharian yang tidak menyertakan bahasa gaul yang cepat munculnya, cepat pula hilangnya? Belum lagi permasalahan dialek dan aksen kedaerahan yang sangat riil dalam konteks kehidupan kita, orang Indonesia. Permasahannya bukan terletak pada soal formal/tidak formalnya bahasa yang digunakan maupun soal ragam bahasa tulis atau lisan. Menerjemahkan naskah asing ke dalam Bahasa Indonesia yang “natural” yang secara aktif kita pakai sehari-hari menyertakan kerumitan tersendiri. Misalnya, seorang aktor yang lahir dan hidup di Jawa (Tengah atau Timur) yang memainkan tokoh yang berbicara dalam bahasa Indonesia dalam sebuah drama realis akan menciptakan semacam perasaan “janggal” bagi penontonnya karena adanya kesenjangan antara bahasa yang dipakai dan fakta nonverbal maupun paralinguistik si aktor. Because that’s not the way he normally speaks.

Dalam banyak kasus, penerjemahan naskah drama asing ke dalam bahasa Indonesia, dalam hal ini naskah-naskah realis dan naturalis, “naturalisme” sebagaimana yang dimaksud para dramawan barat tidak bisa tidak terreduksi karena berbagai faktor di atas. Adaptasi naskah, dan bukannya terjemahan, mungkin bisa menjadi pilihan kalau memang keakuratan realisme yang ingin dikejar. Dan bahasa lokal/daerah, selain juga bahasa Indonesia berdialek, yang digunakan secara sadar bisa menjadi ragam yang memperkaya khazanah teater tanah air kita.