Sakit: anti racun

Kemarin aku ngajar dosen-dosen farmasi di kampus USD Paingan. Seperti biasa pak Jeffry dosen termuda dan lumayan cakep jadi sasaran keisenganku (biar seru dan ada semangat belajar gitu loh). Kupikir-pikir, horny juga aku ini. Nah, bicara soal horns, dalam salah satu diskusi, si bapak menceritakan cara pengobatan dengan menggunakan tanduk kerbau yang berfungsi untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Metode dan konsepnya serupa dengan kerokan model Thai itu. Dari logika medis, kata beliau, cara tersebut jelas kurang bisa dipertanggungjawabkan efektivitasnya.

Agak siangan, aku dan beberapa kolega nengok Pak Purba di rumahnya di Deresan. Beliau masih belum mampu mengeluarkan kata-kata yang mudah dipahami. Tapi keceriaan sudah terpancar di matanya. Begitu juga saat beliau menertawakan diri sendiri saat gagal mengartikulasikan apa yang ada di dalam pikiran.

Sakit, marah, mengumpat, menangis adalah mekanisme mencari keseimbangan. Dengan kata lain, mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Seperti pagi ini. Aku menangis diam-diam ala anak SMP karena masalah bubur obar-abir (yang terlalu memalukan untuk diungkapkan di sini). Nggak logis? Mungkin. Sepele? Belum tentu. Yang penting sekarang sudah lega, dan kalaupun racunku bikin sakit orang lain, selalu ada mekanisme penyeimbangan.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s