Kerja nyaman: mau!

Aku capek total. Secara fisik maupun mental. Ternyata “kerja nyaman” yang aku jalani membawa konsekwensi nggak nyaman juga. Mempersiapkan pementasan Play Performance bareng sama anak-anak. Seperti yang sudah bisa diduga, menjelang hari H, banyak hal kecil yang harus diurus. Membangun panggung, bikin surat ijin ini itu, pesan scaffolding, jualan tiket, sampai urusan jaga parkir. Hari ini pun aku terpaksa nginep di kampus. Koyo ngene kok yo dilakoni? Kerja nyaman, setelah beberapa lama di-panjer, bikin sakit juga. Badan pegal-pegal, masuk angin, pusing kepala, dan… jadi sensi banget.

Tadi ada pesan di inboks-ku dari si gundul, bojoku. Dia ngajakin duet nulis tentang seni peran – tentu saja dari perspektif dan kapasitas kami masing-masing: aku neater, dia milsafat. Kayanya menarik tuh.

Sakit: anti racun

Kemarin aku ngajar dosen-dosen farmasi di kampus USD Paingan. Seperti biasa pak Jeffry dosen termuda dan lumayan cakep jadi sasaran keisenganku (biar seru dan ada semangat belajar gitu loh). Kupikir-pikir, horny juga aku ini. Nah, bicara soal horns, dalam salah satu diskusi, si bapak menceritakan cara pengobatan dengan menggunakan tanduk kerbau yang berfungsi untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Metode dan konsepnya serupa dengan kerokan model Thai itu. Dari logika medis, kata beliau, cara tersebut jelas kurang bisa dipertanggungjawabkan efektivitasnya.

Agak siangan, aku dan beberapa kolega nengok Pak Purba di rumahnya di Deresan. Beliau masih belum mampu mengeluarkan kata-kata yang mudah dipahami. Tapi keceriaan sudah terpancar di matanya. Begitu juga saat beliau menertawakan diri sendiri saat gagal mengartikulasikan apa yang ada di dalam pikiran.

Sakit, marah, mengumpat, menangis adalah mekanisme mencari keseimbangan. Dengan kata lain, mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Seperti pagi ini. Aku menangis diam-diam ala anak SMP karena masalah bubur obar-abir (yang terlalu memalukan untuk diungkapkan di sini). Nggak logis? Mungkin. Sepele? Belum tentu. Yang penting sekarang sudah lega, dan kalaupun racunku bikin sakit orang lain, selalu ada mekanisme penyeimbangan.

Agama: monggo…

Sudah kurang lebih tiga tahun ini aku nggak ke gereja, atau beribadah dengan cara agama apapun. Aku nggak lagi menemukan alasan untuk “berlangganan majalah” yang namanya religi. Tapi aku bukan atau belum menjadi seorang atheis. Dalam kasus-kasus yang tergolong ekstrem, sulit rasanya untuk nggak berpaling ke “sesuatu di sana” itu. Aku memang nggak konsisten.

Sejak kemarin di rumahku kedatangan tamu. Mbah Suster, adiknya Mbah Ti yang biarawati itu. Dan hari ini Olga, anakku, cerita bahwa Mbah Suster menanyainya ke mana dia pergi ke gereja. Dan pertanyaan selanjutnya, “Kalau mama, ke gereja mana?” Tentu saja anakku jujur bilang, “Biasanya sih nggak…” Bagus

Di Facebook, bagian “religious views” sekedarnya aku menulis Beckettian, alias aliran absurdisme ala penulis Endgame itu. “You’re on earth, there’s no cure for that.” Banyak hal di dunia ini yang begitu karena menerangkan dari kacamata positivisme adalah sama juga absurd. Tapi jangan kira kehidupanku yang sekarang ini suram ya. Menjadi skeptis bukan berarti nggak bisa menikmati hidup. Justru anehnya aku merasa ringan dan, kalau boleh kubilang, bahagia (walaupun seorang teman pernah bilang bahwa kebahagiaanku semu. Prek lah!) Sungguh, aku nggak ingin bikin masalah sama orang-orang yang beragama, karena untuk nilai-nilai sosial tertentu aku masih bisa berdamai. Ini mengingatkanku pada suamiku. Aku baca di blognya perang argumen antara dirinya dan salah seorang sobatnya yang religius. Panas. Sengit – walaupun tetap mempertahankan logika. Terkadang dia memang suka ekstrem dan mempersulit diri sendiri. Nggak praktis.

Beberapa minggu lalu dia mengirimkan satu kartu pos bergambar salib raksasa di atas bukit. Di baliknya dia menuliskan, “Anggap saja sebagai lelucon.” Kalau Tuhan ada, aku mau bilang Dia…

Obat anti jenuh: naik roller-coaster

Kemarin kakakku pergi ke Jakarta – mencari peluang berkegiatan baru, setelah sekian lama suntuk dengan pembuatan film-film projek Unicef di Jogja/Jateng. Dan aku pun mulai berpikir akan perubahan.

Capek mendengarkan manusia-manusia yang sama yang entah menertawakan apa.

Dulu aku sering bilang bahwa suatu saat aku akan berhenti. Tapi aku nggak akan berhenti. Dalam dua minggu terakhir ini, paling nggak sudah ada 3 teman yang mengisyaratkan bahwa aku berada di kerumunan yang kurang tepat (“salah” is too strong of a word for I do have good time here). Ingat film Chocolat? Si perempuan pemilik toko cokelat yang bergerak seiring angin yang bertiup? Sekarang memang belum saatnya. Nanti.

Status: OK

Status. Memang kadang merepotkan. Belum lama ini aku dan sahabat/kekasih lamaku memutuskan untuk “menikah.” Mau dibilang pacaran, orangnya kok jauh di seberang lautan, mau dibilang nggak nyatanya reaksi kimiawi di antara kami nggak kunjung pudar sejak hampir 3 tahun lalu. Di Facebook tersedia status “it’s complicated.” Tapi bagiku, itu sama artinya dengan “there’s nothing in it really.” Lalu ada “in an open relationship.” Aku sih oke-oke saja dengan status ini walaupun sedikit terkesan tendensius, tapi si kangmas nggak mau soalnya status ini bisa bikin dia dijauhi teman-teman ceweknya. Bener juga sih. Menceritakan ini pun berisiko kehilangan “sahabat-sahabat”ku yang lain. Ya suds. Aku tetap single, dan dia nggak mencantumkan statusnya. Biar kami sama-sama bisa memenuhi the more immediate needs masing-masing. Fair? Mmm… nggak yakin sih, tapi untuk sementara ini, at least, nggak merugikan siapapun.

Gambar mobil di atas aku dapat dari meng-google “border brujo” – satu konsep yang pertama kali kukenal dari seniman Mexico Guillermo Gomez-Pena, yang mengetengahkan kaburnya batas-batas sosial, politik dan budaya yang bersifat rasis dan kolonialis. Pernikahan dan status hubungan romantik nggak luput dari pengkotak-kotakan yang seringkali memasung dan mengikis nurani. Ia bisa menentramkan untuk waktu yang terbatas, tapi apakah yang nggak berubah di bumi ini? For obscurity is life.