Rumah Kita (5)

“The ornament of a house is the friends who frequent it.”
― Ralph Waldo Emerson

MENIUPKAN ENERGI BAIK  – OBJEK-OBJEK NON-MANUSIA

Konsep ‘home’ dan bukan ‘house’ itu abstrak. Kita hanya bisa merasakan energinya yang tak kasat mata. Dalam ungkapan Jawa, marai krasan atau bikin kerasan, adalah efek yang timbul dari suasana rumah yang membuat penghuni dan tamu merasa nyaman, ‘adem’, dan ingin berlama-lama berada di dalamnya. Bahkan di Jawa ada guyonan lama mengenai rumah yang ‘marai krasan’. Tamu dikatakan betul-betul kerasan kalau sudah buang air besar di rumah orang itu. Artinya, bahkan orang lain pun merasa ngomah, merasa seakan berada di rumahnya sendiri.

Sebenarnya energi sebuah rumah itu mengikuti kepribadian dan energi pemiliknya. Kalau pemiliknya tertutup, secara fisik rumahnya pun akan memiliki fitur-fitur yang selaras dengan sifat itu. Begitu juga, pemilik rumah yang tidak pedulian, apa yang dimunculkan di lingkup rumahnya juga pasti sedikit banyak mencerminkan hal tersebut. Seorang tamu akan merasa kerasan berada di sebuah rumah apabila energi rumah dan tuan rumahnya selaras dengan energinya. Karena saya ingin memaksimalkan energi baik di rumah saya, saya juga ingin rumah saya mengundang orang-orang dan benda-benda dengan energi baik.

Di postingan sebelumnya, saya mengatakan bahwa bagian depan rumah saya harus memberi pesan keramahan dan keterbukaan. Saya mau sebagian halaman saya terbuka menghadap langit dan ditanami tumbuh-tumbuhan yang bagi saya mempunyai sifat baik, ramah, dan ceria. Untuk interior, saya menabung untuk bisa membeli perabotan dari kayu. Saya mengusahakan seminim mungkin bahan plastik, karena plastik terlalu impersonal dan instan. Sementara itu, kayu datang dari alam (kebetulan elemen saya berdasar shio adalah kayu. mmm… njur ngopo yo? 😁) Kayu bisa dicustom-made sesuai selera dan kondisi ruangan. Fungsi dan estetika bisa seselaras yang kita inginkan. Kebetulan di Yogyakarta ada cukup banyak pengrajin mebel, dan sebisa mungkin saya akan mendukung usaha lokal dengan memesan perabotan dari mereka dan bukan dari home deco franchise besar. Ini salah satu langkah menyatu dengan alam setempat dan lingkungan sosial, menurut hemat saya (yang memang harus berhemat).

Urusan styling interior rumah sesungguhnya merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan, terutama kalau budget kita memungkinkan. Pemilihan dekorasi dan warna saya sesuaikan dengan model rumah, besar-kecil ruangan kosong di dalam ruang, dan mood yang ingin kita ciptakan untuk diri sendiri dan tamu-tamu kita. Secara pribadi saya suka warna biru, turquoise, dan warna-warna pastel lain. Warna merah saya gunakan hanya sebagai aksen dan efek dinamis.

Saya suka ruang-ruang berkumpul yang terbuka, di mana obrolan asyik dan ide-ide kreatif mungkin terlahir. Di dalam rumah saya sudah ada meja makan, ruang tamu (yang masih kosong), dan pojok kerja (berupa meja kerja lucu). Di halaman depan dan pekarangan belakang masih memungkinkan untuk diciptakan ruang-ruang berkumpul lainnya kelak. Nyicil mimpi dulu, boleh kan? 😄

MENIUPKAN ENERGI BAIK – MANUSIA

Setelah ada rumah, salah satu hal pertama yang bisa kita lakukan adalah mendoakan rumah itu. Tujuannya jelas: untuk membersihkan ruang-ruang yang ada dari kemungkinan energi-energi negatif dan mengundang aura kebaikan dan perlindungan bagi rumah dan penghuninya. Dalam waktu satu mingguan, saya mengorganisir kegiatan doa bersama di rumah saya. Bayangkan, saya ada di Bali sementara rumah ada di Jogja. Semua harus sudah siap sebelum saya terbang pulang, jadi lumayan kalang kabut waktu itu. Tapi mungkin benar kata orang. Niat baik akan didukung oleh orang-orang baik pula. Bantuan dari keluarga dan sahabat-sahabat berdatangan sebelum dan saat Hari H. Ada yang membantu mencarikan frater, ada yang membantu dengan kehadiran mereka, ada yang mengirimkan bingkisan makanan, ada yang membawa bingkisan tanaman dan hiasan rumah, dan terlebih lagi, banyak yang mengirimkan doa. Luar biasa!

Satu hal yang sungguh bermakna dari acara pemberkatan rumah saya adalah suasana ceria dan penuh tawa dari semua yang hadir. Suasana doa yang  khidmat sesekali diselingi kelucuan-kelucuan  tak terduga yang menimbulkan gelak tawa. Buat saya yang tidak terlalu suka formalitas, semua itu adalah berkah yang tiada taranya. Momen itu juga menjadi ajang ‘nambah sedulur’ atau nambah saudara bagi kami yang berkenalan dengan beberapa orang baru. Walaupun ibadat dibawakan menurut agama yang saya anut, yang hadir ada yang berbeda agamanya. Semuanya hadir untuk satu tujuan: meniupkan spirit baik di rumah saya. Seperti itulah energi yang musti mengisi rumah saya: ketulusan dan kebahagiaan. Semesta bersama mereka yang bahagia. Semoga!

Rumah Kita (4)

“The fairies, as their custom, clapped their hands with delight over their cleverness, and they were so madly in love with the little house that they could not bear to think they had finished it.” 
― J.M. BarriePeter Pan in Kensington Gardens

Bagian ini tidak bisa dipisahkan dari postingan sebelumnya mengenai ‘Rumah Mereka’ vs. ‘Rumah Kita’. Kalau Rumah Kita bag. 3 belum dibaca, mohon segera ke tkp ya… 😉

KAMAR MANDI

Di ‘rumah mereka’ kamar mandi merupakan ruangan yang sangat krusial. Sewaktu saya numpang di rumah mantan supervisor saya di Honolulu, Hawai’i, keluarganya memiliki master bathroom yang hanya bisa diakses dari kamar utama mereka, dan kamar mandi kedua yang bisa saya pakai secara bergantian dengan putri mereka. Kamar mandi utama atau master bathroom ini biasanya memiliki bathtub, shower, toilet dan vanity; sementara kamar mandi kedua memiliki semuanya kecuali bathtub. Di kamar mandi mereka, air mandi ‘diarahkan’ untuk mengalir hanya di lobang pembuangan. Dinding kaca atau tirai plastik dipasang untuk menghindarkan air memercik ke lantai kamar mandi. Kamar mandi mereka relatif luas, well organized, berdekorasi dan berkelengkapan baik, serta kering. Banyak rumah yang memiliki fitur half bathroom atau powder room yang bisa dipergunakan tamu (yang mungkin hanya perlu numpang buang air dan cuci tangan, tidak mandi). Master bathroom hanya diperuntukkan tuan dan nyonya rumah. Arti tersiratnya: urusan pribadi tidak untuk dibagikan ke orang-orang lain. Privasi.

Sementara itu, di kamar mandi kita, terkadang satu kamar mandi digunakan oleh semua orang, tidak peduli itu tuan rumah, anak-anak, maupun tamu. Tamu bisa melihat sikat gigi dan pasta gigi merk apa yang dipakai tuan rumah, bahkan mungkin jenis pisau cukur dan pembalut kewanitaan si penghuni. Artinya: privasi bukan hal utama. Hal -hal paling pribadi pun bisa menjadi urusan orang-orang di luar keluarga inti yang menghuni rumah. Ini tidak mengejutkan mengingat sifat sosial masyarakat kita yang sangat tinggi dibandingkan masyarakat Amerika, misalnya. Apalah artinya urusan berbagi tempat mandi dan buang air? Dulu kakek-kakek kita mandi di sungai beramai-ramai dengan teman-teman sebaya. Bahkan mandi pun urusan sosial. Saat ada kematian warga di lingkungan kita, lagi-lagi memandikan jenazah adalah perkara sosial. Bandingkan dengan lingkungan yang menggarisbawahi privasi. Urusan memandikan jenazah adalah urusan profesional rumah kematian.

Jadi, jangan sedih kalau kamar mandimu cuma satu-satunya di rumahmu. Itu karena kita, masyarakat Indonesia, sangat sosial! 😂😁

Catatan Pribadi mengenai Pagar & Taman Depan Rumah

Beberapa saat lalu, Mas Developer Perumahan saya mengirimkan foto bagian depan rumah saya via WA karena kondisinya saya berada di Bali. Saya kaget sudah ada pagar berupa palang-palang lebar melintang horizontal dan tersusun rapat. Bagus sebenarnya, tapi tidak sesuai dengan visi saya mengenai pagar rumah saya. Saya minta pagar diganti pagar besi vertikal yang lebih langsing, tidak rapat susunannya, dan sederhana. Kenapa? Karena saya ingin rumah saya terlihat welcoming, jadi saya ingin taman saya nantinya bisa jelas terlihat dari luar. Saya tidak mau pagar yang dominan karena efek yang ditimbulkan adalah individualis dan tertutup. Saya mau kalau tetangga lewat dan saya kebetulan ada di teras, kami bisa saling melempar sapaan.

Taman saya saat ini sudah ditanami rumput, pohon jepun (kamboja Bali yang bunganya lebih kecil dibanding kamboja pekuburan 😁), pokok kembang sepatu dan bunga asoka. Seorang rekan yang berprofesi housekeeper dan berpengalaman dalam landscaping hotel menyarankan saya untuk menanam bunga berwarna merah di depan rumah. Dia menganjurkan bunga sepatu atau hibiscus karena termasuk bunga iklim tropis yang tahan panas dan berbunga sepanjang tahun. Kenapa merah? Katanya warna merah bagus untuk mengundang rejeki. Ya sudah, saya nurut, toh tidak ada ruginya. Bunga jepun (plumeria) saya pilih karena aroma tropikalnya yang menenangkan. Rasanya sangat menyenangkan saat membuka pintu rumah di pagi hari dan disambut semerbak wangi frangipani/jepun/plumeria yang ramah ini. Bunga ini mewakili kehidupan di Bali yang saat ini masih saya jalani. Sementara, rumpun asoka atau soka, hadir tidak terduga dari seorang sahabat yang menghadiri acara pemberkatan rumah saya minggu lalu. Bunga soka membawa kenangan masa kecil saya: mengisap nektar dari batang bunganya. Baik dan manis ya, bunga ini! 😄😊

Rumah Kita (3)

“Your house shall be not an anchor but a mast It shall not be a glistening film that covers a wound, but an eyelid that guards the eye.”

― Kahlil Gibran, The Prophet

RUMAH MEREKA VS. RUMAH KITA

Beberapa bulan yang lalu saya sempat ngobrol dengan seorang kawan bule berkewarganegaraan Selandia Baru soal rumah. Dia memimpikan punya rumah di Indonesia suatu hari nanti. Aku ingin beli tanah yang luas, paling tidak 4 are (400 meter persegi), karena aku tidak suka rumah yang dempet-dempet sama tetangga. Ya, dengan penghasilannya, tentunya dia punya pilihan seperti itu. Tinggal cari bini orang lokal saja, paling. 😁😁😁

Dari program-program televisi di saluran HGTV dan fyi yang belakangan getol saya tonton, dan setelah memperbandingkan fitur-fitur rumah orang kebanyakan di Indonesia (‘kebanyakan’ dalam artian kelas menengah secara sosial ekonomi), saya berpikir, betapa beruntungnya mereka yang hidup di Amerika Serikat, sebagian negara di Eropa, dan Australia itu karena mereka bisa memiliki space atau ruang yang luas. Sementara itu, kita ‘harus puas’ memiliki rumah-rumah kecil dengan luas tanah yang sangat terbatas pula. Mereka menikmati ‘kemewahan’ memiliki privasi dengan ruang pemisah yang lebar di antara rumah mereka dan tetangga. Di lain pihak, banyak di antara kita yang harus berbagi dinding dengan tetangga – satu di kiri, satu di kanan rumah. Tapi ya, mana boleh mengeluh? Bisa punya atap di atas kepala kita saja sudah Alhamdulillah, Puji Tuhan, toh? 😊

Space dan fitur-fitur rumah itu mencerminkan kecenderungan sosial masyarakat terkait. Saya tidak ingin membahas aspek ekonomi dan kependudukan di  sini, karena perbedaannya terlalu nyata. Ada hal-hal menarik yang saya temukan dari perbedaan ‘rumah mereka’ dan ‘rumah kita’ secara sosio-budaya.

JARAK ANTAR RUMAH

Space antar rumah yang lebar secara langsung maupun tidak langsung mengisyaratkan masyarakat yang menekankan pentingnya ‘mind your own business’ atau privasi. Banyak rumah di Amerika seperti terlihat di film-film memiliki halaman depan terbuka tanpa pagar depan yang tegas, tetapi jarak batas rumah dengan rumah tetangga relatif lebar. Selain ini mungkin sudah menjadi peraturan tata kota mereka, secara metaforik ini merupakan pencerminan masyarakat yang terbuka, straightforward, speak their minds untuk urusan-urusan publik, tapi tertutup untuk urusan-urusan pribadi dan rumah tangga. Tetangga hanya bisa melihat kegiatan penghuni rumah sebatas halaman depan saja. Selebihnya, MYOB!

Bandingkan dengan masyarakat rumah dempet, atau yang jarak antar rumahnya sangat sempit atau bahkan tidak ada. Masalah pribadi kadang bisa jadi urusan tetangga atau orang-orang di luar keluarga inti. Bagusnya, anggota masyarakat tipe ini biasanya bisa saling jaga; masing-masing berperan dalam memastikan pranata yang berlaku di masyarakat dijalankan. Sisi negatifnya terutama terasa bagi mereka yang tidak suka urusan rumah tangganya direcoki tetangga yang kepo. Mereka yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk tapi individualis biasanya memilih untuk membangun pagar tinggi-tinggi. Selain untuk alasan keamanan, secara metaforik pagar tinggi juga mengisyaratkan LMA, Leave Me Alone.

DAPUR

Rumah-rumah ala Barat banyak yang memiliki dapur yang luas, dengan deretan lemari penyimpanan atas dan bawah yang rapi dan perangkat standar: built-in stoves, oven, exhaust, lemari pendingin, tempat cuci piring, dan terkadang microwave. Semua ini menunjukkan sistem organisasi yang sangat baik di bidang persiapan memasak hidangan. Tidak hanya itu, banyak dapur mereka yang dilengkapi sebuah ‘island’ atau meja yang biasanya terletak berseberangan dari konter meja dapur. Di sinilah biasanya si pemasak mempersiapkan bahan-bahan olahannya sembari berbincang dengan anggota keluarga lainnya. Itu sebabnya, banyak island dilengkapi kursi-kursi di sekelilingnya, agar penghuni rumah tetap bisa berkomunikasi sementara masakan sedang disiapkan. Di sekitar ‘island’ ini juga, kadang-kadang mereka mengundang sahabat-sahabat dekat mereka untuk bercengkerama sebelum makan malam. Kerapian, keteraturan, kehangatan dan harmoni tercipta di dapur-dapur mereka. Dapur yang tidak mempunyai pembatas yang tegas dengan ruangan lain juga berarti transfer ‘ilmu perdapuran’ jadi lebih seamless atau mudah. Urusan food preparation bisa dilakukan siapa saja di rumah itu. Dalam proses memasak, dari awal hingga akhir, posisi si pemasak lebih banyak berdiri atau duduk di atas kursi yang tingginya menyesuaikan tinggi island, artinya aspek higienitas sangat ditekankan, karena tanah atau lantai identik dengan kuman dan kotoran.

Banyak rumah modern di Indonesia meniru model dapur ala barat, tapi dahulu dapur kita adalah ruangan terpisah dari ruangan lain. Berbeda dengan yang terjadi di dapur barat, persiapan memasak di Indonesia biasa dilakukan di lantai. Lantai kan kotor? Di sinilah persepsi masyarakat kita berbeda. Bersih itu harus, tapi higienis adalah konsep yang baru datang  kemudian. Makanya ada mebel khusus yang khas di negeri ini: dingklik. Si tukang masak duduk di atas dingklik yang tingginya sekitar 15-20 cm dari lantai, sementara bahan-bahan yang mau diolah diletakkan di atas tampah di lantai. Kegiatan memasak secara tradisional seperti ini juga sering menjadi sebuah aktivitas sosial di mana para pemasak duduk di atas dingklik masing-masing, tangan mengulek cabe, mulut berbagi gosip tetangga. Ruang dapur yang terpisah bisa diartikan keberpisahan antara urusan dapur (ibu-ibu dan pembantu rumah tangga, secara tradisi) dan di luar dapur. Mereka yang di luar dapur (bapak-bapak dan anak-anak lelaki, terlebih di masa lalu) tidak tahu urusan dapur. Tahunya menikmati hidangan yang disajikan di atas meja, tanpa pernah tahu cara memasaknya.

Munculnya trend dapur dengan konsep terbuka di rumah-rumah di Indonesia modern sebenarnya tidak mengherankan. Selain karena exposure dari tontonan di televisi maupun Internet, masyarakat kita semakin mengaburkan batas mengenai peran gender. Memasak adalah urusan semua orang. On the flip side, jenis-jenis masakan kita juga semakin ‘membarat’ karena masakan-masakan barat cenderung jauh lebih simpel persiapannya. Olahan masakan nusantara rumahan semakin langka. 😢

Rumah Kita (2)

“The ache for home lives in all of us. The safe place where we can go as we are and not be questioned.” 
― Maya Angelou

LOKASI – PANDANGAN UMUM

Karena budget saya hanya memungkinkan untuk memulai pencarian rumah di wilayah-wilayah di luar perkotaan, maka saya harus memastikan hal-hal berikut ini terpenuhi:

  • Efisiensi akses ke perkotaan dan tempat-tempat strategis lainnya. Untungnya, saat ini kehidupan kita di tahun 2017 sangat dimudahkan dengan kehadiran ojek-ojek maupun taksi-taksi online yang sudah mulai merambah pinggiran kota, walaupun belum semuanya. Setidaknya, mobilitas jadi lebih mudah terutama buat kita-kita yang belum mempunyai kendaraan pribadi. Dalam aspek ini, saya memilih lokasi yang sudah terjangkau fasilitas kemudahan sebagaimana taksi online, biar gampang kemana-mana.
  • Jarak ke perkotaan dan tempat-tempat strategis. Buat saya 60 menit adalah jarak maksimal yang masih masuk akal untuk menuju lokasi-lokasi strategis seperti bandara, pusat perbelanjaan, rumah saudara, tempat ibadah, dan rumah sakit. Syukur-syukur ada nilai tambah, misalnya dekat dengan kampus-kampus besar, terutama jika ada kemungkinan untuk menyewakan rumah tersebut saat belum akan ditempati.
  • Sumber air, bukan saja karena feng shui mengatakan air merupakan penanda sumber rejeki seseorang, tapi juga semua rumahtangga sangat bergantung pada air. Pastikan persoalan sumber air ini ke developer sebelum memutuskan membeli rumah, biar tidak dirundung kerepotan di kemudian hari.
  • Sisa tanah di luar bangunan, karena ini memungkinkan kita untuk mengembangkan rumah kita di masa mendatang. Saya pribadi lebih suka rumah yang masih menyisakan halaman depan yang cukup luas untuk ditanami tumbuh-tumbuhan. Idealnya juga ada pekarangan belakang sebagai ruang terbuka. Tidak mau menghabiskan lahan untuk bangunan, karena kaki saya terkadang rindu bersentuhan dengan tanah atau rerumputan.
  • Akses jalan perumahan. Jangan memilih perumahan yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Idealnya, jalan perumahan bisa dilalui 2 mobil yang berpapasan. Di feng shui juga disebutkan bahwa jalan di depan rumah itu seumpama sungai di mana aliran rejeki mengalir. Kalau jalannya sempit, katanya rejeki juga sedikit. Katanyaaaa… Tapi masuk akal juga sebenarnya. Bayangkan, kita mengadakan acara di rumah dan mengundang rekan-rekan kerja, dan ternyata hanya sebagian kecil yang datang setelah mengetahui akses menuju rumah kita merepotkan? Sayang kan?
  • Sebisa mungkin hindari lokasi banjir, bangunan penjara, terlalu dekat dengan sungai, pemakaman, maupun rumah ibadah.

LINGKUNGAN NASIONALIS? WHY NOT.

Pencarian rumah saya di wilayah Yogyakarta berbarengan dengan situasi politik di Indonesia yang memanas, terlebih terkait isu agama. Hal yang akan saya kemukakan ini kemungkinan besar tidak akan terjadi seandainya saya memilih lokasi rumah di Bali. Tapi saya sadar, Yogyakarta jauh lebih kompleks dalam hal perbedaan agama. Sebagai penganut agama yang tergolong minoritas di negeri ini, saya merasa harus menambahkan satu kriteria lagi ke dalam daftar persyaratan lokasi: lingkungan yang ‘nasionalis’, dalam artian, saya dan keluarga harus merasa nyaman dan aman, bebas dari intimidasi oknum-oknum intoleran.

Bukan tanpa latar belakang mengapa saya mengambil sikap ini. Sekitar 18 tahun yang lalu, saya pernah berburu rumah kontrakan di suatu wilayah di salah satu kabupaten di Yogyakarta. Pencarian saya ternyata menjadi sebuah pengalaman yang menyedihkan dan cukup traumatis. Salah satu RT tidak sungkan mengatakan bahwa lingkungannya tidak diperuntukkan penduduk minoritas. RT yang lain lagi lumayan ‘welcome’, tapi dengan satu syarat: saya tidak boleh mengadakan kegiatan keagamaan di rumah. Saya sampai menangis waktu itu, sulit percaya hal-hal seperti itu nyata terjadi di kota pelajar ini. Untungnya, masih banyak lingkungan yang terbuka di Yogyakarta, walaupun masih saja saya dengar beberapa teman membagikan pengalaman kurang menyenangkan yang mereka terima karena alasan agama.

Dari situ, begini kira-kira panduan yang saya lakukan saat memilih lokasi rumah yang akan dibeli:

  • Tinjau lokasi langsung dan cermati lingkungan sebaik-baiknya. Ada kantong-kantong lingkungan tertentu yang menunjukkan penanda-penanda fanatisme. Keep an open mind dan jangan terlalu curigaan, tapi kadang insting kita berbicara, dan bagi saya, first impression sangat penting. Seorang saudara bahkan punya tips praktis begini: ada tidak tetangga yang memelihara anjing? Kalau ada, syukur… karena bisa berarti lingkungan tersebut cukup terbuka. Ya kecuali buat yang memang takut sama anjing, ya! 😁😁
  • Tanyakan secara terbuka pada pihak marketing developer mengenai concern Anda, dan lihat reaksi mereka. Saya percaya, developer yang memang ingin membantu Anda dan bukan sekedar mengejar komisi akan sejujur-jujurnya memberikan masukannya, bisa dengan menginformasikan demografi sederhana mengenai calon-calon tetangga perumahan, maupun lingkungan yang Anda target.
  • Kadang-kadang Google Map bisa membantu memberi petunjuk apakah letak rumah berada di area yang kental keagamaannya, tapi jangan dijadikan patokan bahwa orang-orangnya pasti fanatik dan tidak welcome, ya. Tetap petunjuk kiri kanan diperlukan.

Terkait ‘lingkungan nasionalis’ ini, saya mau berbagi cerita singkat yang saya dapat dari seorang driver Grab yang mengantarkan saya dari rumah (yang berhasil saya beli. Yayyy!) ke bandara. Dia bercerita dulu keluarga mereka yang beragama minoritas tinggal di lingkungan yang cukup hostile terhadap kaum mereka. Lambat laun, karena keluarga itu terus aktif di kegiatan lingkungan, tetangga-tetangga yang tadinya fanatik buta mulai terbuka mata hatinya. Mereka bisa hidup tenang pada akhirnya. Lesson learned: tetaplah memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada lingkungan kita, di mana pun kita tinggal, sebab tidak setiap saat kita bisa memilih rumah kita.

Rumah Kita (1)

“I never left because a part of me will always be in that house…” 
― J.X. Burros

AWALNYA

Tulisan ini terinspirasi dari pencarian saya sejak akhir tahun 2016. Ya, saya mencari rumah. Bermula dari kegelisahan saya menginjak usia 42: sekian lama bekerja, setua ini (ehem!), dan belum memiliki properti atas nama saya. Setiap pertemuan dengan manusia lain pasti ada maknanya. Mungkin karena aura ‘pencari rumah’ saya cukup besar saat itu, saya menarik orang-orang tertentu yang membantu saya mewujudkan impian saya. Orang-orang di sekitar saya yang (pernah) memiliki mimpi yang sama dan buku-buku yang saya unduh di internet semakin mengipasi keinginan saya. Salah satu buku yang mempengaruhi keputusan besar itu adalah buku klasik Rich Dad, Poor Dad karya Robert Kiyosaki (nyesel saya tidak baca buku itu saat saya lebih muda). Saya harus punya rumah selagi saya masih diberi umur dan kesempatan itu. Better late than never. 

TANAH ATAU RUMAH?

Seandainya boleh memilih, saya akan pilih tanah yang luas, lalu sedikit demi sedikit membangun rumah sesuai selera dengan halaman luas. Tapi di usia 42, pilihan saya tidak banyak lagi, saya harus realistis. Sekalipun tabungan saya cukup untuk membeli tanah impian saya, saya tidak akan mampu membangun rumah dalam waktu dekat. Saya saat ini masih hidup sendiri, jadi belum ada partner untuk berbagi kerepotan merencanakan rumah di antara kesibukan saya. Jika saya membeli rumah kavlingan di perumahan, saya masih punya kesempatan mendapatkan kredit bank untuk cicilan bulanan dan rumah sudah bisa ditempati. Selagi masih berstatus sebagai karyawan, saya akhirnya memutuskan untuk membeli kavling perumahan, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, termasuk harus rela jadi budak perbankan dalam jangka waktu tertentu. 😓 Saya harus berdamai dengan segala kondisinya. Kalau berlama-lama, saya takut kesempatan untuk memiliki rumah semakin menipis atau bahkan hilang.

RUMAH ADALAH TANAH BAGI AKAR KITA

Ada dua wilayah yang menjadi bayangan saya dalam memilih lokasi rumah: Bali, karena 8 tahun terakhir saya hidup di pulau yang penuh pesona ini; dan Yogyakarta, karena di sanalah saya dibesarkan dan menyerap sebagian besar nilai-nilai hidup saya. Dengan budget yang saya punyai dari single income, keduanya memungkinkan dengan satu kondisi: saya tidak mungkin membeli properti di area kota. Artinya, saya pasti hanya akan melirik area suburban dengan jarak tempuh berkendaraan ke pusat kota yang masih masuk di akal saya. Akhirnya saya memutuskan pilihan wilayah pencarian saya: Yogyakarta, dengan pertimbangan:

  1. Dengan harga yang sama, setidaknya saya bisa mendapatkan luas tanah yang lebih besar. Katakanlah, harga rumah 350 juta, di Tabanan Bali saya hanya bisa mendapatkan luas tanah 70 meter persegi, sementara di Sleman barat Yogyakarta bisa 100 meter lebih sedikit.
  2. Benar, Bali adalah tempat saya hidup dan berpenghasilan 8 tahun terakhir ini, tapi apakah Bali adalah ‘rumah’ bagi saya? Setiap kali saudara atau teman bertanya soal ini, jawaban saya selalu menggantung. Saya ragu. Bagi saya, keraguan itu sendiri adalah suara hati yang tidak mungkin saya bungkam. Senyaman-nyamannya kehidupan di pulau ini, saya kok tidak bisa membayangkan menghabiskan hari tua saya di Bali. Saya selalu ingin pulang. Pulang ke Jogja.

Yogyakarta bukan kota kelahiran saya, tapi di sanalah saya dibesarkan, ditempa, di-asam-garam-i sejak umur 2 tahun hingga pertengahan umur 30-an. Mungkin semakin berumur seseorang, semakin ia ingin kembali ke akarnya. Alam sepertinya mengatur segalanya. Di tengah-tengah upaya saya browsing rumah di Internet sampai mata jereng, sejumlah peristiwa membawa saya merasakan kerinduan akan akar saya: tanah Jawa, dan Yogyakarta tepatnya, dan setelah itu, segala sesuatunya seperti dimudahkan.

Rumah adalah tanah bagi akar kita bertumbuh. 

On Men’s Jokes to Candid Picture Perverts

I get along very well with my male colleagues, mostly because I have pretty good understanding on how men are: what goes on their heads when they see a curvy girl, their body language when they are attracted to an opposite sex, and types of jokes they throw at lunch breaks. Sexist jokes? I’m used to them and I often play along without hesitation because I have known these guys for quite some time. I can laugh with them over their dirty jokes; and I even tell my dirty jokes and they would laugh with me. Why do I put myself in such ‘low’ conversations, you may ask? I don’t. I only do that with men I know well. Men I feel comfortable being with. Men I know will never cross the line without my consent. Men who never harass me because they know I will never allow them to do so. Men who are well aware that even if they do tease me sexually, I would do the same to them. This is Indonesia, anyway. People throw rough jokes from time to time with no harm done.

But men are men. Sometimes they can’t hold themselves. I can’t remember how many times I have felt annoyed, even angered, when my male colleagues do their male stuff with women who are not their wives in places flocked by men like them. Karaoke lounges, for example. A few years ago, my colleagues (men and women) and I went to a famous karaoke place after work. The so called premium package we purchased included three female lady escorts whose job was to make sure the guests were satisfied. Yep. ‘Satisfaction’ in that place expanded beyond tapping on the karaoke screen to choose songs and mixing our Coke with spirit; it also meant my male colleagues had the liberty to touch any of those escorts, even make out with them during the booked slot. That was the last time I went to such a place. I felt sick.

Even after I moved to another company, some men in the new company also exhibit a similar habit. Some of them are people I call friends. Sometimes, as friends, they would ask me to join them to chill out after work. Sometimes, as their friend, I would hang out with them, but only after I make sure we’d go to places I’d say yes to: an escort-free family karaoke or cafe. As wild as I may seem to be, I just can’t allow myself to see my male friends objectify female strangers the way they do in those shady places. It bothers me, of course; I wish they would stop doing that one day, but it’s their lives and I have no interest in meddling with their ‘behind-door’ businesses.

Going to a shady karaoke or shady spa parlor is one thing, taking pictures of a lady candidly then going on sharing the pictures with friends with a main purpose to objectify that unknowing woman is another. It disgusts me when men do this. Even if the lady wears a blouse that shows most of her cleavage, or shorts so short they reveal her thighs, what gives them right to take her picture without her consent? Not just that, some men even upload such candid pictures in a chat room. They may think it is funny, and yes, some people respond with grinning emojis and stuff, but I find this behavior repulsive. To me, this is harassment, albeit being done in a closed group where the objectified woman may never know she is being objectified.

I will not go on to discuss the laws in this country in regard to non-consensual picture sharing (yes, people may actually go to jail if found guilty). I just want these perverts to start asking these questions: What if this happens to your wives or daughters. What if a random guy posts a picture of your daughter’s butt online without her knowledge? Would you laugh?

Bu Toa’s Scrubs

blog title

Pak Markita (‘Pak’ = Mr.) works in a hotel in Bali as a Food & Beverage supervisor. It has been ten years and business is at the lowest point. As many other hoteliers, his monthly income is partly determined by a service charge, which hasn’t shown a silver lining in the past five months, following dropping number of visitors to the island. He receives less than he did a year ago by 20 to 30 percent, which is why he is forced to think ways to make extra money. After a number of attempts did not seem to work as expected, from selling hookah coals to restaurants and night clubs to have a double job as a karaoke bar manager in the evening, Pak Markita starts to share his burden with his wife, hoping she can offer some ideas.

Bu Markita (‘Bu’ = Mrs. or Ms.) is a housekeeper in a hotel. As in her husband’s case, monthly income has also been affected quite significantly since the beginning of the year. They have two young children and the cost of living as Balinese where traditions are unavoidable and religious ceremonies are frequent and cost a lot of money can be overwhelming at times. She, too, has to squeeze her brain, thinking of how to make ends meet. Now, in their bedroom, lying in bed, her husband – usually stoic and dominant – speaks to her as if the sun will not rise tomorrow. For the next hour, they talk not only about what to sell, but also about what to do. Borrowing money from a relative will only put their family in further stress. Selling their only car will also put their family in distress in the long run. Selling her husband’s old moped will only save the family for less than a month. Moving to her parents’ house and renting their family home is not an option, especially for Pak Markita, because his pride as the man in the house just won’t allow it.

Then she comes up with an idea, albeit self-doubtedly: spa scrubs. She knows a company owner that does spa products, and she has been using this scrub cream for a month because it is fairly cheap and she feels her skin softened. That particular brand is not as well known as Brand X or Y, but it has met all the official registry and requirements. It also uses natural ingredients, something that matters nowadays. The product is also easy to apply. She can scrub her legs and armpits while watching TV. It does not feel as sticky as similar products sold in supermarkets, and she can sweeps the dirt easily off the floor after the scrubbing is done.

Pak Markita immediately feels uneasy. He has never sold any products that are specifically designed to target women. Nonetheless, he knows it is time for him to look to that direction. His mind start to weigh in and map out strategies. His wife gets up and goes to the kitchen. She prepares coffee for both of them, feeling that it is going to be a long night.

“Who do you think is the worst gossiper in the neighborhood?” Pak Markita’s voice breaks the silence in the house. His wife cannot believe what she just heard. She returns to the bedroom with a tray in her hands. Hot Bali coffee and fried tofu from this afternoon are served.

“Why do you want to know?” she says, losing grounds to where the conversation will lead.

“Just tell me. I’ll tell you why later.” Pak Markita sips his coffee.

“Well, there are some gossipers out there,” Bu Markita says.

“The worst one!” says her husband, chewing tofu in his mouth.

“It should be Bu Toa. She’s the worst of the worst. She can gossip morning to sunset.” says Bu Markita.

Pak Markita grins. Bu Markita’s forehead frowns, demanding explanation.

“Do you still have the unopened pot of that scrubs?” The man says. His eyes flicker.

“Well, yes. I bought two and have only used one of them. Why?” The lady starts to lose her patience. Her coffee starts to lose its heat.

“Give the unopened pot of scrubs to her. Give it to Bu Toa tomorrow. For free. Sell what good the scrubs do to you, but don’t sell it for money yet,” Pak Markita says with determination.

“What if she insists on paying?” his wife says.

“Don’t let her,” he says, finishing all the tofus on the plate, and gulping his coffee. “She’s the worst gossiper, right? If she pays and she thinks the product is bad, she will tell the world about how bad it is, and you will not sell anything because the other women will listen to her. If the product turns out bad for her, at least she will not say anything because she knows she’s got it for free.”

Bu Markita giggles, but she knows her husband may be right. It is a worth trying experiment. That scrubs will go to Bu Toa first thing in the morning. The middle aged couple finish their coffee, and contrary to the belief about the effect of coffee, they sleep soundly and snore that night.

It’s the next day. Pak Markita drops his oldest to school and goes to work. Bu Markita drops by at Bu Toa’s house with her younger son. She pretends she needs to ask her if she knows where to order yellow rice for her boss’s birthday. After that, she presents the scrub cream, with coffee aroma, to her unexpected neighbor, telling her it is free. Bu Toa pretends to protest, but keeps her gift eventually, and thankfully. Bu Markita goes on to drop off her son at her parents’ house and off to work.

A week passes and nothing happens in the Markitas household. On the eight day, a neighbor from the next block knocks on their door. She asks if she can buy a pot of scrub cream. Pak Markita purchased a set of 12 pots of scrubs days before, each with a different aroma. His wife now presents all of the 12 pots in front of the neighbor who ends up buying two of them. The next day, she sells another two to a different neighbor. On the third day of the selling, it is Bu Toa who shows up at her door, taking her sister. Bu Toa boasts that her husband has been complementing the glow on her skin after using the scrubs and now she wants to buy the jasmine variant. Her sister buys three pots, saying she will keep one and give out the rest to her colleagues at work. She asks if it is possible to be a reseller of the product. Yes! Of course! On the next day, Pak Markita has to restock his wife’s ‘shop’. Bu Markita is overjoyed. Not only has she successfully sold all of her scrubs, she now has six resellers at almost zero marketing cost. Bu Toa, the worst of gossipers in the neighborhood, has become her best marketing agent!

Both the Markitas are still struggling to make ends meet, but this time with a more positive outlook. With their scrubs, they now look into their work places for possibilities. They know they only need to find one person in each circle to make the plan work: the worst gossiper!

How to Cut Monthly Expenses

#killerpost (1)

A recent worthwhile purchase has forced me to rethink about my monthly expenses. Since the purchase was a major one and I had been dreaming about, ok… it was a house!, I willingly comply to a little adjustment to my monthly budget, and perhaps, slightly to my lifestyle. I need to save more money because I need to buy a lot of stuff for my house. Here are the things I do to cut my monthly expenses.

  • I buy clothing items online. I even buy clothes every other month now. Fortunately, I am not a brand-minded person. I can get a similar or even better quality dress than a branded one online. Even a branded bra can be half priced online if you don’t mind not having the newest edition. Besides, have you considered a hidden cost of buying your clothes from a physical store in a mall? Cost like rental that may be added to price tags by percentiles? I don’t know how the system works, but that possibility really bugs me. With online shops, you can always compare prices before buying.
  • I stopped buying coffee from Starbuck’s because I can always get better coffee much cheaper. Let’s be honest. Theirs looks stylish on Instagram, but the price you pay is not only for the coffee, but also for the logo and space rental.
  • I gave up visits to my favorite nail salon and do my own nail. I purchased a manicure set a while ago, and every Sunday morning, I do my nail rituals. I don’t polish my finger nails; just trim, smooth the edges, and shine them. I usually do extra with my feet: softening up the calluses and paint the nails properly at the end.
  • I reduced eating out especially on week days and started eating in office’s cafetaria. If the food there sucks, I set a limited budget for delivery from nearby warungs.
  • Unfortunately, I don’t live in my house at the moment because it is located in my hometown while I work in a different island. It means: apartment/house rental. The one I live in now costs me IDR 1.5 millions (about USD 120) monthly. If I want to save significantly, I need to start looking for a cheaper place. I have not found a decent place to move into at a lower price than I have to pay right now. I’m still looking.
  • I quit smoking. … … … Nah, I lied. But it is something I’ve been considering because I can save almost IDR 700,000 a month!

Do you have any other ideas for me?

#KillerPost #NotTheSeries

#killerpost

I recently watched a TV program called #killerpost on my favorite channel CI (Crime & Investigation). The use of “#” on the title indicates that the series has something to do with social media. The fact that it is aired on CI and the term”killer” say what it is about  quite lierally: real cases where simple clicks on social media turn into murders.

Don’t get your hopes too high, though, I am not writing about #killerpost the tv program, although it is clearly correlated, but I am certain what I’m going to share is relatable to our daily social media habits. The internet seems to affect our lives and our relationships with others, more than we may expect. For better or worse.

Let me ask you these:

  1. How often do you feel irritated by your contacts’ posts to the point that you think this isn’t right and you have to say something?
  2. How many contacts have you unfriended?
  3. How many times have you reported a post or an account?

I have my answers:

  1. Too often, at least once a day in the past month.
  2. One in the past month.
  3. At least five, in the past month.

Now, you may think that most of those annoying posts are political or religious in nature. That may be right, given that this country’s political & religion-related tensions has been escalating, starting from the pre-Jakarta provincial elections to the aftermath of the governor’s 2-year sentence for blasphemy, a decision that has split the nation like never before. People figuratively kill each other with posts and comments to a post.

Let us not talk about it, at least not yet. Let’s go into more generic things we, social media citizens, decide to post. What we assume to be an innocent party picture can be harmful in the eye of some beholders. Somebody may feel left out and this can potentially lead to an open argument. I saw it happen. A jealous wife who goes beserk after seeing a photo of her hubby with female colleagues (I received a plea from such a husband to take down a picture I shared online). An employee who receives warning from a company after posting a disgruntled statement about a delayed payday. A daughter who needs to clarify to the public after being targeted for her celebrity mother’s Twitter rants. An angry girl whose insensitive Facebook post blamed a religious ritual for a traffic she was stuck into gets ousted from the region by angrier crowds. We have witnessed or read such ‘killerpost’ cases.

Family, company, society. At least these three should be our warning alarm when it comes to posting stuff on social media. Is it safe for my family? Does my family want to see this? Is it safe for my work? What will my boss say if he sees my post? Is it safe for my social welfare if I post this? Or will a certain group of people attack me? Will I be ready to deal with them? This applies not only to images or statuses you originally post, but also to your comments to someone else’s posts and what you repost online, thanks to confusing social media algorithms that decide what goes and what does not go to your contacts’ timelines.

We may be able to control what we post, but we can’t control what other people post. As the saying goes: bla… bla… bla…., but you can control your reaction. Your reaction is what you decide to do or not do after seeing a post that triggers a certain emotion in you. It’s totally everybody’s call. Human to human relationships can be hurt by killerposts. Some people have big hearts, they can easily forgive and forget. Some others take on the angry rants lane and get involved in long, exhausting battles of arguments online. There are  also people who do silent abandonment; they are familiar to ‘mute’, ‘unfollow’, ‘unfriend’, and ‘block’ features. I recently fell into the 3rd. I have unfollowed a few people because of the extreme nature of their posts: contacts who posted hatred toward others, those who shared pictures of dead bodies, and those who shared hoaxes (doesn’t matter whether they were aware if they were hoaxes). People with these gravity magnet tendencies. Even if you share the same religion as I do, believe in the same political figures as I do, and share a similar cause, if I detect an extreme or fanatic pattern in your posts that go beyond my logic, I may still unfollow you for my own good.